Crozier, seorang dokter Amerika didiagnosis mengidap Ebola pada September saat bekerja dengan Wolrd Health Organization (WHO) di Sierra Leone. Crozier dirawat di unit khusus Ebola Rumah Sakit Emory di Atlanta dan dikeluarkan pada Oktober setelah virus itu tidak lagi terdeteksi dalam darahnya.
Dua bulan kemudian, Crozier mengalami peradangan dan tekanan darah yang tinggi pada matanya. Matanya membengkak dan terdapat masalah penglihatan yang serius pada Crozier. Ia pun kembali ke Emory untuk mendapatkan pemeriksaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter mata Steven Yeh melakukan pengujian Ebola pada cairan pasien dan dinyatakan positif. Tetapi virus tidak ditemukan pada air mata dan jaringan yang mengelilingi bagian luar mata.
"Itu menunjukkan bahwa kontak dengan pasien Ebola tidak menimbulkan risiko kesehatan pada masyarakat. Namun pasien tetap perlu dipantau untuk masalah matanya," ucap Yeh. "Penglihatan Corzier belum sepenuhnya pulih tetapi sudah membaik dari keadaan sebelumnya," ungkap Yeh.
Dr Jay Varkey, spesialis penyakit menular Emory juga menyatakan bahwa mereka yang terlibat dalam perawatan Crozier selama beberapa minggu ke depan dianjurkan mengenakan alat pelindung dan menjaga diri sebagai bentuk pencegahan, seperti dikutip dalam Fox News pada Senin (11/5/2015).
Kasus yang dialami Crozeier menjadi diskusi para dokter di konferensi Association for Research in Vision and Ophthalmology di Denver, dan dipublikasikan secara online oleh New England Journal of Medicine.
Virus Ebola juga diperkirakan dapat bertahan dalam air mani selama beberapa bulan. Catatan mengungkap Ebola telah menginfeksi 26.000 orang di Afrika Barat sejak Desember 2013.
Baca juga: RSPI Sulianti Saroso Dukung Ide Pengembangan Pusat Riset
(up/up)











































