Pakar pelayanan paliatif dari HCA Hospice Care, Singapura, dr Ramaswamy Akhileswaran, mengatakan memang ada beberapa kasus di mana pasien memilih pengobatan tradisional ketika pengobatan kuratif dari dokter sudah tidak memiliki pengaruh. Menurut Dr Akhileswaran, hal tersebut wajar.
"Di sini juga terjadi hal yang sama. Beberapa pasien kanker yang sudah diberikan angka harapan hidup kurang dari satu tahun memilih pengobatan tradisional, kami tentunya tidak bisa melarang mereka," tutur dr Akhileswaran, dalam temu media Singapore International Foundation di HCA Hospice Care, Singapura, dan ditulis Rabu (27/5/2015).
Baca juga: Faktor-faktor Ini Sering Bikin Kanker Payudara Terlambat Ditangani
Di Singapura, pengobatan tradisional China sangat digemari warga-warga keturunan Tiongkok. Rata-rata, obat tersebut berbentuk puyer dan memiliki rasa yang pahit seperti kebanyakan obat tradisional lainnya.
dr Akhileswaran mengatakan pelayanan paliatif tidak bisa melarang pasien untuk melakukan sesuatu ataupun tidak melakukan sesuatu. Jika memang pasien ingin melakukan pengobatan tradisional, ia mempersilakannya.
"Jika pasien ingin melakukannya (pengobatan tradisional) silakan saja. Kami hanya meminta mereka berhati-hati. Jika mereka merasa nyaman silakan dilanjutkan. Namun jika pengobatan itu malah membuat mereka muntah-muntah, tentunya kami akan mengingatkan mereka untuk menguranginya," terang dokter yang juga pakar radiasi onkologis ini.
Hal yang sama juga berlaku bagi pengobatan kuratif. dr Akhileswaran menyebut ada juga beberapa pasien yang minta tetap di kemoterapi atau radioterapi meskipun dokter mereka sudah mengatakan pengobatan tersebut tak bermanfaat.
"Sekali lagi, kami mencoba mengurangi beban yang dirasakan pasien, termasuk mengurangi beban psikologisnya. Jika pasien minta pengobatan kuratif dilanjutkan, silakan saja. Kami tidak akan melarangnya," pungkasnya. (Muhamad Reza Sulaiman/Nurvita Indarini)











































