Data Public Utilities Board (PUB), lembaga yang mengatur pengelolaan air bersih di Singapura, mengatakan Singapura memenuhi 100 persen kebutuhan air bersih penduduknya, sangat jauh dibandingkan Indonesia yang hanya ada di kisaran 65 persen.
George Madhavan, Direktur 3P Network Department, PUB Singapore, menyebut bahwa Singapura menyadari masalah soal air bersih sejak kemerdekaannya. Apalagi, mereka harus bisa memenuhi kebutuhan air bersih sendiri sejak berpisah dari Malaysia.
"Karena itu kami harus memaksimalkan air hujan. Kami termasuk daerah dengan curah hujan tinggi namun tanah kami tidak begitu besar untuk menampung air hujan dalam tanah. Itulah alasan kami membangun reservoir," tutur Madhavan, dalam temu media di PUB Gallery, Marina Barrage, Singapura, seperti ditulis Jumat (29/5/2015).
Baca juga: Masih BAB Sembarangan, Warga Secang Kulonprogo Rentan Terserang Penyakit
Madhavan mengatakan sistem ini disebut sebagai water catchment. Air hujan yang turun ditampung dalam saluran air yang berakhir di reservoir lalu diolah menjadi air bersih. Air bersih ini lalu dialiri ke industri dan penggunaan domestik.
"100 Persen air ledeng kami siap diminum, sehingga kami tak perlu lagi membeli air bersih dalam bentuk galon dan botol untuk diminum. Pengeluaran kami pun lebih murah karena hanya satu kali melakukan pengolahan," urainya lagi.
Air limbah domestik dan industri yang sudah terpakai tidak langsung dialirkan ke laut untuk dibuang. George mengatakan air limbah ini dialirkan ke sebuah penampungan khusus untuk diolah menjadi sedikit lebih baik sebelum akhirnya dibuang ke laut.
Menurutnya, hal ini harus dilakukan untuk menjaga kelestarian air. Apalagi pada tahun 2005, Singapura memperkenalkan teknologi distilasi yang mengolah air laut menjadi air bersih untuk segera diminum.
Satu lagi metode pengelolaan air bersih Singapura adalah NEWater. Program ini mendaur ulang air limbah domestik menjadi air bersih yang siap digunakan. Sehingga, air limbah domestik tak perlu lagi dibuang ke laut.
"NEWater merupakan bentuk lain dari pengelolaan air bersih kami. Jadi daripada harus menunggu air diolah dari hujan, kami mencoba membuat ketersediannya lebih cepat," pungkasnya.
Baca juga: Duh! 35 Persen Warga Sebuah Dusun di Pelosok Kulonprogo Belum Punya Jamban
(M Reza Sulaiman/AN Uyung Pramudiarja)











































