"Dalam 14 hari sesudah pulang ada gejala gangguan saluran napas segera ke dokter, dan jangan lupa bilang habis pergi dari negara mana. Jangan nggak bilang," kata kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes RI, Prof Tjandra Yoga Aditama.
Ditemui di kantor Balitbangkes, Jl Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2015), prof Tjandra mengatakan thermal scanner di bandara juga bisa membantu. Tapi, patut diingat bahwa virus MERS memiliki masa inkubasi 14 hari dan saat itulah gejala baru muncul.
"Tapi kan sekarang kewaspadaan meningkat ya, ada demam atau batuk-batuk segera ke dokter. Kita di Indonesia tetap waspada, tapi proporsionallah, jangan terlalu berlebihan juga. Ingat ya penyakit dari 1 negara bisa saja datang ke negara lain," kata prof Tjandra.
Lebih lanjut, prof Tjandra mengatakan, kasus MERS di Korea Selatan akhir-akhir ini cukup menghebohkan Indonesia karena letak Negeri Ginseng yang berdekatan dengan Indonesia. Kemudian, banyak penularan di RS meskipun sebenarnya penularan di RS di Korea lebih sedikit dari penularan di RS di Arab Saudi.
Baca juga: Kemenkes Pastikan RS di Indonesia Siap Hadang MERS-CoV dari Korea Selatan
Tapi, setelah sistem RS tertata dengan baik, angka penularan pun turun. Dikatakan Prof Tjandra, tata laksana yang benar yakni jika pasien diduga MERS, pertama kali pisahkan dia dengan pasien lain. Kemudian, ada zona yang jelas antara rawat inap dan rawat jalan. Kemudian, jika ada dugaan Penyakit Tidak Menular (PTM) jangan gabungkan pasien dengan pasien lain.
"Kalau yang di Korea kan dia tanggal 11-19 Mei tidak terdiagnonisis MERS dan baru ketahuan saat sudah berobat ke 4 RS. MERS dan SARS itu menginfeksi saluran napas jadi virus akan masuk ke paru-paru, merusak, dan mengakibatkan pneumonia yang cepat memburuk dan akhirnya pasien meninggal karena gangguan di paru-paru," jelas Prof Tjandra.
Bedanya dengan SARS, 60% kasus MERS memiliki penyakit penyerta dan sebagian besar pasien meninggal karena pneumonia. Sebab, penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes membuat infeksi lebih mudah terjadi dan pneumonia lebih berat. Sampai saat inipun belum ada obat untuk membunuh virus MERS.
"Sekarang yang bisa dilakukan yaitu mengobati dengan pengobatan suportif, kalau pasien shock ya diinfus, imunnya rendah kita kasih obat. Ada Ribafirin yaitu antivirus dan interveron alfa 2B yang pernah dipakai saat SARS tapi keduanya ini tidak spesifik bunuh korona virus. Ada yang ketiga itu belum dicoba pada MERS yaitu darah dari pasien yang sembuh diolah lalu disuntikkan. Tapi ingat pengobatan itu belum jadi pengobatan standar," pungkas Prof Tjandra.
Baca juga: Idola Korea Ramai-ramai Pakai Masker Karena MERS
(rdn/vit)











































