Tak Selalu Tampak, Perdarahan Saat DBD pun Bisa Terjadi di Dalam Tubuh

Tak Selalu Tampak, Perdarahan Saat DBD pun Bisa Terjadi di Dalam Tubuh

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 11 Jun 2015 18:33 WIB
Tak Selalu Tampak, Perdarahan Saat DBD pun Bisa Terjadi di Dalam Tubuh
Illustrasi: Thinkstock
Jakarta - Perdarahan sebagai salah satu gejala demam dengue atau kerap disebut Demam Berdarah Dengue (DBD) umumnya berupa mimisan atau keluarnya darah di dubur dan telinga. Meski begitu, perdarahan pada DBD juga bisa terjadi di 'dalam' alias tidak kasat mata.

dr I Nyoman Kandun, MPH selaku Program Director Field Epidemiology Training Program (FETP) Indonesia mengatakan ada perdarahan yang harus diprovokasi terlebih dulu. Caranya, yakni dengan melakukan toqniquet test atau rumpel leedetest.

"Dipasang manset ukur tensi, diukur tekanan sistolik dan diastoliknya. Misalnya 120 per 90, nah nilai di tengah-tengahnya itu dipertahankan, ditahan 1-2 menit akan muncul bintik perdarahan," kata dr Nyoman di Penang Bistro, Jl Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (11/6/2015).

Baca juga: Ditemukan di Makassar, Genotype Baru Virus DBD Gantikan Virus Lama

Virus demam dengue sendiri terdiri dari empat jenis yaitu Dengue 1 (D1), Dengue 2 (D2), Dengue 3 (D3) dan Dengue 4 (D4). Berdasarkan teori secondary infection, kata dr Nyoman, ketika seseorang terinfeksi satu jenis virus, tubuhnya akan membentuk antobodi. Namun, saat terinfeksi jenis virus lain, akan terjadi interferensi yang melebarkan pembuluh darah hingga terjadi perdarahan.

"Kalau terinfeksi virus dengue fever, demam, pegal-pegal, akan sembuh sendiri. Tapi saat terjadi interferensi yang melebarkan pembuluh darah, maka timbul dengue disertai perdarahan massive atau dengue haemorrhogic fever. Jika tidak ditangani dengan tepat bisa menjadi dengue shock syndrome (DSS)," jelas dr Nyoman.

Kadar trombosit pun menjadi salah satu indikator untuk mewaspadai terjadinya perdarahan. Meskipun, dr Nyoman menegaskan terjadinya perdarahan juga dipengaruhi banyak faktor. Ada pasien yang memiliki trombosit rendah tetapi tidak mengalami perdarahan atau sebaliknya, mengalami perdarahan meski kadar trombositnya tidak terlalu rendah.

"Semua orang rentan terinfeksi virus dengue, asal digigit oleh nyamuk yang membawa virus tersebut. Penularan virus dengue secara endemis (terus menerus) tetapi grafiknya stagnan, kemudian jika jumlah kasusnya 'meletus' maka jadi KLB (epidemik). Jika penularan terjadi di melebihi dua benua maka menjadi pandemi," pungkas dr Nyoman.

Baca juga: Sama-sama Ditularkan Nyamuk, Ini Bedanya DBD dan Chikungunya

(rdn/vit)

Berita Terkait