Berbagai daerah di Indonesia yang disambangi dr Hari mulai di Jawa Timur seperti Sidoarjo, Jombang, Madiun dan Ngawi, hingga ke luar pulau Jawa. Misalnya saja Banjarmasin, Selong di Lombok Timur dan untuk pergi ke sana harus menempuh perjalanan darat selama 2 jam dari Mataram, kemudian Soe yang membutuhkan perjalanan darat 3 jam dari Kupang.
"Di setiap daerah selalu memberikan kesan tersendiri untuk saya. Seperti di Soe yang paling terpencil dari semua daerah yang pernah saya berikan layanan. Layanan kesehatan di daerah tersebut masih sangat dasar," tutur dr Hari dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Jumat (19/6/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, dikatakan dr Hari suasana dan fasilitas kesehatan di daerah terpencil sangat jauh dari ideal. Saat praktik di RSUD Dr Soetomo Surabaya biasanya ayah satu anak itu tinggal minta apa yang ia butuhkan lantas langsung didapat. Operasi juga dilakukan dengan asisten 2 orang dokter dan 1 orang perawat kamar operasi senior, serta dokter anestesi dan perawat anestesi. Kondisi ini amat berbeda ketika dr Hari melakukan operasi di daerah. Sebab, proses operasi hanya dibantu 1 perawat anestesi dan 1 perawat kamar operasi. Sehingga, semua prosedur operasi pun harus dikerjakan sendiri.
"Pernah suatu ketika, dalam satu hari saya melakukan 9 operasi caesar. Padahal, saat itu kain untuk operasi hanya tersedia 4 buah. Sehingga saya sendirilah yang ikut membantu mencuci dan mensterilisasi alat tersebut untuk mempercepat pelayanan karena semua pasiennya juga gawat darurat," kisah dr Hari.
Lebih lanjut, dr Hari menuturkan infrastruktur di daerah terpencil juga jauh dari kecanggihan di ibukota. Di Selong, pada waktu itu belum ada alat sterilisasi digital. Sehingga, untuk sterilisasi masih menggunakan alat zaman dahulu yakni memanfaatkan teknologi kompor minyak tanah pompa seperti yang digunakan penjual nasi goreng. Mau tak mau, dr Hari pun ikut mencoba memakai alat itu. Untuk tantangan praktik di daerah terpencil, menurut dr Hari lebih berat karena pasien banyak sedangkan jumlah dokter yang sedikit.
Kondisi masyarakat di daerah terpencil yang didatangi dr Hari juga banyak yang mengenaskan karena mayoritas hidup dengan tingkat ekonomi jauh di bawah standar. Di Soe misalnya, akses ke layanan kesehatan sangat susah. Toh pasien bisa datang, tenaga kesehatan profesional sulit sekali membuat pasien patuh dengan pengobatan. Misalnya, ada warga yang sudah diberikan pelayanan tetapi justru lari dari pengobatan. Belum lagi ada yang tidak minum obat karena takut. Sebab, umumnya warga lebih percaya pemuka adat daripada tenaga kesehatan di sana.
Kini, dr Hari tengah menempuh pendidikan sebagai konsultan di bidang onkologi ginekologi. Pria kelahiran Surabaya 24 Mei 1983 ini memang lebih mendalami kanker serviks karena menurutnya, kanker serviks adalah kanker yang prevalensinya cukup besar di Indonesia. Padahal, kanker serviks sangat bisa dihindari dengan rutin melakukan PAP-Smear atau IVA.
Dalam sehari, di unit rawat jalan kanker kandungan di RSUD dr Soetomo, dr Hari bisa menerima 3-4 pasien kanker baru setiap hari dari Jawa Timur. Belum lagi 70% pasien yang datang sudah berada di stadium III ke atas. Dalam menangani pasien kanker serviks pun keraguan masyarakat karena usia dr Hari yang terbilang masih muda kerap terjadi.
"Mengenai masyarakat banyak yang takut diperiksa oleh saya karena saya masih muda memang tidak bisa dipungkiri. Tapi kami di RSUD dr Soetomo bekerja secara tim, sehingga pasien tidak merasa dipegang oleh individu tertentu. Alhamdulillah masalah ini bisa dihadapi," kata dr Hari.
Baca juga: Mengenal Kanker Serviks, Penyakit yang Menggerogoti Kewanitaan Jupe (rdn/up)











































