Kamis, 25 Jun 2015 14:04 WIB

Studi Buktikan Manfaat Daun Sirsak Bagi Pasien Kanker Usus Besar

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Konsumsi daun sirsak sebagai pengobatan herbal untuk kanker memang sudah dikenal di masyarakat. Namun di dunia kedokteran, belum ada penelitian ilmiah yang menyebut daun sirsak dapat digunakan sebagai obat kanker.

Dr dr Lili Indrawati, MKes, staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia mengaku sering ditanya soal manfaat daun sirsak untuk pengobatan penyakit. Melihat manfaatnya pada beberapa orang, ia pun memutuskan untuk meneliti manfaat daur sirsak bagi pasien kanker kolorektal untuk disertasi doktoralnya.

"Karena sebagai dokter kan kita nggak bisa bilang ini bermanfaat itu bermanfaat tanpa ada pembuktian ilmiahnya. Penelitian saya bertujuan untuk membuktikan manfaat daun sirsak terhadap penyakit kanker," tutur dr Lili, ditemui usai sidang promosi doktornya di Gedung Senat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jl Salemba Raya, Jakarta Pusat, Kamis (25/6/2015).

Baca juga: Anak Dibiarkan Gemuk Hingga Remaja, Waspadai Kanker Kolorektal

Penelitian dr Lili dilakukan kepada 30 orang pasien kanker kolorektal stadium dini. 15 Orang diberikan ektrak daun sirsak yang disajikan dalam bentuk teh, 7 gelas per hari. 15 Orang lainnya mendapat placebo dari gula jagung. Seluruh partisipan merupakan pasien kanker kolorektal yang sudah menjalani operasi dan sedang dalam proses pengobatan.

Penelitian ini dilakukan selama dua bulan. Hasilnya menunjukkan bahwa pada kelompok yang mendapat ekstrak daun sirsak, pertumbuhan sel kanker terhambat hingga 17 persen.

"Hasilnya terlihat pada pasien kanker stadium dini saja, stadium 1, 2 dan 3 awal. Sementara pada stadium lanjut dosis minum tehnya 210 gelas per hari, tentu ini tidak memungkinkan," ungkapnya.

Meski begitu, hasil studi ini membuktikan pengobatan herbal dapat menjadi pengobatan tambahan bagi pasien kanker. Yang harus diingat adalah pengobatan herbal sifatnya komplementari alias pendampingan, bukan sebagai pengganti pengobatan atau terapi kedokteran lainnya.

Baca juga: Tak Cuma Wasir, Perdarahan pada Tinja pun Bisa Jadi Gejala Kanker Usus Besar

dr Lili berharap penelitiannya dapat menjadi pintu bagi penelitian-penelitian ilmiah lainnya soal manfaat tanaman herbal. Ke depannya, penelitian haruslah difokuskan untuk tersedianya obat dari tanaman herbal yang murah dan dapat dijangkau seluruh masyarakat.

"Karena Indonesia ini kaya sekali akan tanaman herbal, sayang kalau tidak dimanfaatkan. Namun untuk memanfaatkannya dibutuhkan penelitian ilmiah agar kita mengetahui apa yang dimakan atau diminum tersebut benar-benar bermanfaat bagi tubuh," pungkasnya.

(mrs/vit)
dMentor
×
Rahasia S3 Marketing di Media Sosial
Rahasia S3 Marketing di Media Sosial Selengkapnya