Peneliti dari Duke University, Carolina Utara yang menemukan hal ini juga mengaku terkejut. Asumsi mereka adalah pasien yang mengalami obesitas tidak akan memperlihatkan reaksi pengobatan yang lebih baik untuk kanker kolorektal stadium 4 karena kondisi tubuh mereka.
Apalagi studi sebelumnya juga memperlihatkan pasien kanker yang obesitas hanya bisa diberi obat dengan dosis di bawah dosis untuk pasien yang tidak kelebihan berat badan. Jika tidak, mereka mengidap gangguan kesehatan lain, sehingga proses pemulihannya menjadi lebih rumit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rata-rata BMI atau indeks massa tubuh pasien adalah 25,3 atau tergolong cukup mengalami kelebihan berat badan. Dan semua pasien diberi obat kemoterapi berupa bevacizumab. Obat ini dipergunakan untuk pasien dengan kanker yang sudah metastatis, untuk memperlambat pertumbuhan sel tumor.
Oleh peneliti, partisipan lantas dibagi menjadi 4 kelompok berdasarkan BMI mereka, dan mengukur tingkat keberlangsungan hidup masing-masing partisipan. Mereka juga mengukur lamanya waktu yang dibutuhkan tumor pada pasien untuk berhenti tumbuh.
Baca juga: Obesitas Bikin Wanita 40 Persen Lebih Berisiko Kena Kanker
Ternyata pasien dengan BMI paling rendah, yaitu antara 20-24,9 hanya bisa bertahan selama 21,1 bulan setelah memulai pengobatan mereka. Sedangkan mereka yang BMI agak tinggi, yakni antara 25-29 atau tergolong kelebihan berat badan justru bisa bertahan hidup 2,5 bulan lebih lama.
Secara mengejutkan, pasien dengan BMI paling tinggi, yaitu 30-35 atau obesitas dapat bertahan hidup rata-rata selama 24 bulan. Namun bagi mereka yang BMI-nya di atas itu, mereka hanya bisa bertahan rata-rata selama 23,7 bulan saja.
"Hanya saja studi ini tidak mengindikasikan bahwa mempunyai berat badan berlebih akan melindungi seorang pasien dari dampak pengobatan kanker," simpul peneliti dr Yousuf Zafar seperti dikutip dari Daily Mail, Senin (6/7/2015).
Sebab berapapun berat badannya, hal ini tidak berdampak pertumbuhan tumor mereka. Bagi pasien yang tumornya berhenti tumbuh, mereka rata-rata mengalami hal ini selama 10 bulan saja. Tapi berhentinya pertumbuhan tumor tidak menjamin akan menambah usia keberlangsungan hidup si pasien.
dr Zafar menduga ada alaan biologis mengapa pasien kanker yang lebih kurus cenderung memperlihatkan efek yang buruk pasca pengobatan. Dari pengamatan yang ia lakukan tampaknya pasien yang beratnya di bawah rata-rata tak dapat mentolerir pengobatan dengan baik.
"Kalaupun di awal responsnya bagus, tetapi lama-kelamaan mereka sudah dalam keadaan terlalu lemah untuk menerima terapi tambahan," ungkapnya.
Baca juga: Peneliti Sebut Kaitan Obesitas dengan Kanker Prostat Dipengaruhi Ras (lll/vit)











































