Rabu, 08 Jul 2015 10:21 WIB

Heboh Pembalut Berklorin

Soal Temuan Pembalut Meresahkan, Profesor Farmakologi Sentil YLKI

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Temuan YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) soal pembalut dan pantyliner yang mengandung bahan berbahaya menuai kontroversi. Di satu sisi mendapat apresiasi, di sisi lain memicu keresahan di kalangan perempuan.

Kritik pun bermunculan, salah satunya dari ahli farmakologi dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Prof Zullies Ikawati, Apt. Menurut Prof Zullies, temuan YLKI cenderung membuat resah karena tidak disertai penjelasan lebih lanjut.

"YLKI nggak bisa cuma melempar isu, tapi juga harus menjelaskan dengan lebih detail," tegas Prof Zullies saat dihubungi detikHealth, Rabu (8/7/2015).

Penjelasan yang diharapkan dari YLKI, menurut Prof Zullies antara lain dalam bentuk apa klorin ditemukan dalam pembalut yang diuji? Faktanya, klorin ditemukan juga dalam kehidupan sehari-hari seperti pada air berkaporit, juga pada produk pemutih pakaian. Selama ini, tidak pernah ada yang meributkan bahan-bahan yang mengandung klorin tersebut.

Baca juga: Daftar Pembalut dan Pantyliner Mengandung Zat Berbahaya Temuan YLKI

Selanjutnya, YLKI juga perlu menjelaskan lebih detail dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh klorin. Dalam proses bleaching atau pemutihan, klorin menghasilkan byproduct atau hasil samping yakni dioxin yang bersifat racun. Keberadaan dioxin dalam pembalut tidak dijelaskan dalam temuan YLKI.

Meski begitu, Prof Zullies menilai sah-sah saja YLKI untuk mengadvokasi kepentingan konsumen. Menurutnya, tetap ada manfaat yang bisa diambil dari hasil pemeriksaan YLKI terhadap 9 merek pembalut dan 7 merek pantyliner tersebut.

"Paling tidak, proses pemutihan bahan-bahan untuk pembalut masih pakai klorin. Itu faktanya," kata Prof Zullies.

Di negara maju, penggunaan klorin dalam proses bleaching sudah banyak ditinggalkan. Sebagai gantinya, bleaching dilakukan dengan senyawa lain yakni hidrogen peroksida (H2O2). Klorin ditinggalkan salah satunya karena menghasilkan byproduct senyawa toksik yakni dioksin.

Baca juga: Kemenkes Jamin Pembalut dan Pantyliner yang Beredar Aman Digunakan (up/vit)