Prof Zullies Ikawati, Apt dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menuangkan keresahannya tersebut di dinding Facebooknya. Begini sentilan Prof Zullies selengkapnya:
"Bahwa YLKI menemukan fakta adanya bberapa pembalut yang disampling yg mengandung klorin (entah dalam bentuk apa kurang jelas..), sebenernya ngga masalah.. Yang jadi masalah dan meresahkan masyarakat adalah jika penjelasannya tidak rinci sehingga menimbulkan aneka interpretasi terkait dengan dampak adanya klorin tersebut. Belum lagi jika ada yang menggunakan kesempatan untuk berpromosi pembalut yg katanya bebas dioksin, bebas kanker servix, dll," demikian, seperti dikutip Rabu (8/7/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Prof Zullies, YLKI perlu segera memberikan penjelasan lebih detail tentang temuannya agar tidak memicu keresahan. Jika memang ada temuan klorin, maka harus disebutkan dari mana asalnya dan dalam bentuk apa klorin tersebut ditemukan.
Faktanya, klorin mudah sekali ditemukan di kehidupan sehari-hari. Air berkaporit, menurut Prof Zullies juga mengandung klorin dari senyawa Kalsium Hipklorit atau Ca(ClO)2. Begitu juga pada produk-produk pemutih pakaian, juga terkandung senyawa klorin.
"YLKI harus tanggung jawab, mengklarifikasi klorin ini asalnya dari mana," pesan Prof Zullies.
Baru-baru ini, YLKI mengumumkan temuan klorin pada 9 merek pembalut dan 7 merek pantyliner. Senyawa tersebut diklaim berbahaya, bisa menyebabkan iritasi dan dalam jangka panjang bisa memicu kanker. Belakangan, sejumlah pihak meluruskan bahwa pemicu kanker adalah dioksin yang merupakan byproduct atau hasil samping dari proses bleaching (pemutihan) dengan klorin.
Baca juga: Soal Temuan Pembalut Meresahkan, Profesor Farmakologi Sentil YLKI (up/ajg)











































