Rabu, 08 Jul 2015 19:32 WIB

Heboh Pembalut Berklorin

Soal Temuan Pembalut Berbahaya, Orang Tua Sempat Khawatir Popok Bayinya

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) kemarin merilis temuannya. Ditemukan bahan yang berpotensi membahayakan kesehatan dalam beberapa pembalut dan pantyliner yang beredar di pasaran.Temuan ini sempat menyiratkan kekhawatiran orang tua.

Kekhawatiran muncul lantaran pembalut untuk perempuan mirip dengan popok sekali pakai untuk bayi. Sayangnya rilis YLKI hanya menyorot pada pembalut dan pantyliner saja.

"Itu kan sejenis, kenapa tidak diteliti. Kalau memang menggunakan klorin untuk bleaching dan ada efeknya, pasti efeknya lebih bahaya pada bayi ketimbang orang dewasa," ujar Melly Febrida, ibu dua anak, ketika berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (8/7/2015).

Apalagi, sambung Melly, dirinya pernah mendengar kabar bayi yang mengalami alergi akibat pemakaian popok sekali pakai.  Sedangkan perempuan alergi saat emakai pebalut belum pernah didengarnya.

"Untuk apapun seharusnya ada standarnya di sini. Jangan yang kandungan tertentu beda-beda pemakaiannya. Terus Kemenkes menyebut aman, tapi YLKI nggak kan bikin bingung. Sebaiknya ke depannya ada aturan jelas penggunaan bahan tertentu yang aman biar masyarakat nggak khawatir," paparnya.

Baca juga: Soal Temuan Pembalut Meresahkan, Profesor Farmakologi Sentil YLKI

Hal senada disampaikan Enggar (35). Dirinya sempat khawatir dengan kabar ditemukannya bahan berbahaya di pembalut oleh YLKI. Dia yang sering membeli popok bayi sekali pakai khawatir ada bahan yang sama di popok.

"Kalau bisa diminimalkanlah penggunaan bahan-bahan di produk sehari-hari yang berpotensi menimbulkan dampak bagi kesehatan," harapnya.

Sementara dr Meta Hanindita, SpA dari RS Dr Soetomo Surabaya mengaku belum menemukan orang tua pasien anak yang resah dengan kabar tersebut.

"Sejauh ini belum ada sih, karena yang heboh kan baru pembalut ya," kata dr Meta.

Terkait temuan YLKI, Kemenkes menyarankan agar YLKI memberikan klarifikasi dengan metode uji yang digunakan. YLKI juga didorong menjelaskan lebih detail wujud dan senyawa kimia dari klorin yang digunakan.

Maura Linda Sitanggang, Direktur Jendral Bina Farmasi dan Alat Kesehatan menegaskan, Kementerian Kesehatan juga melarang penggunaan gas klorin dalam proses bleaching atau pemutihan. Berdasarkan sampling tahun 2012 hingga 2015, pihaknya tidak menemukan pembalut yang tidak memenuhi syarat.

Baca juga: Heboh Pembalut Berklorin Dimanfaatkan Reseller Pembalut Herbal

(vit/up)