"Untuk jumlah ASI, semuanya itu ada di otak. Dalam artian, kalau ibu belum apa-apa sudah merasa berpuasa ASI-nya bakal sedikit, pasti akan sedikit karena oksitosinnya drop. Tapi kalau dia percaya diri dan yakin ASI-nya juga bakal banyak, ya akan banyak karena oksitosin yang dihasilkan pun banyak sehingga ASI lancar," tutur dr Utami Roesli SpA, MBA, IBCLC, FABM dari RS St Carolus.
"Makanya, kalau ibu belum apa-apa sudah mengatakan ASI-nya bakal sedikit, oksitosinnya pun drop. Padahal, oksitosin kan berguna untuk mengalirkan ASI. Pada prinsipnya, ASI itu demand dan supplynya seperti bejana berhubungan, dikeluarkan seratus cc ya diproduksi lagi seratus cc," lanjut dr Tami dalam temu media di kantor Wahana Visi Indonesia, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta, Kamis (9/7/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Ibu Bekerja Ingin Tetap Lancar Menyusui dan Puasa? Bisa Kok!
"Misalkan sudah suaminya tidak memberi support, ditambah ibu mertuanya cerewet, lalu ibu baru memeras ASI tapi anak sudah rewel, dia berpikir ASI-nya kurang nih, ya itu bakalan kurang beneran," kata dr Tami.
Bagi ibu menyusui dengan anak usia di atas 6 bulan, memang dibolehkan berpuasa. Menurut dr Tami, tekniknya adalah tetap makan seperti biasa yakni tiga kali sehari. Sarapan diganti saat sahur, makan siang di waktu berbuka, dan makan malam dilakukan sehabis tarawih. Selama tidur semalaman, jangan lupa letakkan air minum di sisi tempat tidur.
Tujuannya, agar ibu bisa lebih mudah minum guna memenuhi kebutuhan cairannya ketika malam hari. Sebaliknya, jika usia anak di bawah 6 bulan, sebaiknya menunda puasa karena memang sumber makanan bayi kala itu hanyalah ASI.
Baca juga: Hal-hal yang Perlu Diketahui Ibu Menyusui yang Sedang Berpuasa
(rdn/vit)











































