Waduh, Sekolah Tak Tamat, Umur Bisa Makin Pendek

Waduh, Sekolah Tak Tamat, Umur Bisa Makin Pendek

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Senin, 13 Jul 2015 14:37 WIB
Waduh, Sekolah Tak Tamat, Umur Bisa Makin Pendek
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
New York -

Apa hubungannya tidak menyelesaikan sekolah sampai tamat dengan panjang pendeknya umur? Sekilas tak ada hubungannya, bahkan terkesan tidak masuk akal. Namun sebuah penelitian terbaru memastikan keduanya sangatlah berkaitan.

Untuk keperluan studi ini, tim peneliti dari School of Culture, Education and Human Development and College of Global Public Health, New York University melibatkan lebih dari satu juta orang Amerika yang lahir pada tahun 1925, 1935 dan 1945.

Kemudian peneliti melakukan pengamatan terhadap data partisipan, terutama pada kurun 1986-2006. Hasilnya, selama studi berlangsung tercatat ada 145.000 kasus kematian akibat tidak tamat SMA dan 100.000 karena karena kuliah yang tidak terselesaikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana bisa begitu? Peneliti menyimpulkan bahwa rendahnya tingkat pendidikan memainkan peranan tersendiri dalam menentukan risiko kematian seseorang. Utamanya pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan tingkat pendidikan semisal pendapatan dan status sosial yang tinggi, perilaku atau pola hidup dan kondisi psikologis.

Baca juga: 4 Penyakit Mematikan yang Rentan Menyertai Kegemukan

"Kami juga menemukan, semakin tinggi tingkat pendidikan yang dienyam seseorang, makin rendah risiko kematiannya," ungkap peneliti seperti dikutip dari CBS News, Senin (13/7/2015).

Oleh karena itu, mereka yang menamatkan bangku SMA memiliki risiko yang kecil untuk meninggal selama berlangsungnya studi. Namun jika dibandingkan dengan mereka yang berhasil mengantongi gelar sarjana, risiko kematiannya jauh lebih kecil lagi.

Untuk itu, peneliti menilai dalam rangka menurunkan angka kematian dini di masyarakat, maka diperlukan perhatian lebih terkait tingkat pendidikan mereka. "Jangan hanya terpaku pada perubahan perilaku sehat seperti terkait pola makan, kebiasaan merokok atau minum-minum. Edukasilah yang mendasari pemahaman akan perilaku sehat, sehingga harus diberi porsi perhatian lebih," tandas peneliti Virginia Chang, profesor kesehatan masyarakat dari New York University.

Lebih rinci, Chang mengungkapkan penyakit jantung merupakan faktor penyebab kematian terbesar pada mereka yang memiliki tingkat pendidikan rendah. Namun peneliti juga mengingatkan bahwa studi ini tidak serta-merta menjelaskan keterkaitan langsung antara tingkat pendidikan dan risiko kematian.

Baca juga: Ingat, Gejala Stroke Hanya Terjadi Secara Mendadak

(lil/vta)

Berita Terkait