Tak Disadari, Kebiasaan Ini Bisa Turunkan IQ

Tak Disadari, Kebiasaan Ini Bisa Turunkan IQ

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 06 Agu 2015 14:03 WIB
Tak Disadari, Kebiasaan Ini Bisa Turunkan IQ
Foto: thinkstock
Jakarta - Dewasa ini makin banyak ditemukan anak-anak dengan IQ di atas rata-rata, bahkan lebih tinggi dari ilmuwan jenius seperti Albert Einstein. Di sisi lain, penggunaan gadget, polusi dan makanan tak sehat yang bertebaran menjadikan sebagian orang juga mengalami penurunan kepandaian.
 
Bahkan sejumlah pakar di Barat mengungkapkan 10 tahun terakhir ini terjadi penurunan standar IQ untuk pertama kalinya dalam 50 tahun, dan kondisi ini ditemukan merata di seluruh penjuru dunia.
 
Agar kondisi ini dapat dihentikan, setidaknya mulailah dari diri sendiri. Berikut sejumlah kebiasaan yang tak disadari dapat menurunkan tingkat inteligensia seseorang, seperti dikutip dari Telegraph, Kamis (6/8/2015).

Baca juga: Mudah Lupa Belum Tentu karena Tua, Bisa Juga Masalah Tidur Penyebabnya

1. Makan lemak jenuh

Foto: Flickr/[cipher]
Mengonsumsi lemak jenuh seperti daging, keju dan mentega dalam porsi besar dapat menurunkan kemampuan menyerap informasi baru, memicu munculnya respons lambat, merusak daya ingat serta mengakibatkan depresi, meskipun studi ini kebanyakan baru dilakukan pada tikus.
 
University of Montreal juga menemukan bahwa konsumsi lemak jenuh dalam jumlah tinggi juga mengakibatkan 'gangguan sirkuit otak yang berdampak terhadap munculnya gangguan mood, kecanduan obat-obatan dan overeating atau kecenderungan makan dalam porsi berlebih'.

2. Multitasking

Foto: Fuse
Earl Miller, pakar ilmu saraf dari MIT pernah menjelaskan bahwa otak tidak dibuat untuk multitasking. Jika hal ini tetap dilakukan, maka harus ada yang dikorbankan. "Tiap kali multitasking, glukosa (bahan bakar otak) yang tebruang semakin banyak, dan menyebabkan otak mudah lelah," katanya.
 
Miller menambahkan, kapasitas kognitif yang terbatas membuat otak tak dapat sepenuhnya menjadi fokus pada satu pekerjaan, meskipun orang yang bersangkutan merasa sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus. Padahal multitasking hanya akan memenuhi otak dengan kortisol (hormon stres) dan adrenalin yang mencegah seseorang berpikir jernih.

3. Terbiasa googling

Foto: Pixabay/fancycrave1
Sejak ditemukannya mesin pencari Google, seseorang bisa mencari informasi apapun, kapanpun dan di manapun. Namun karena mesin ini, memori otak jadi jarang digunakan.

Meski kebiasaan ini tidak berdampak terhadap kinerja otak, peneliti dari Columbia University mengungkap, kebiasaan ini mengubah cara kita menyimpan ingatan. Dari yang dulunya bisa mengingat informasi yang dibutuhkan menjadi hanya mengingat di mana informasi itu disimpan. Lagipula orang-orang zaman sekarang tak lagi bisa berkonsentrasi dalam waktu lama seperti orang dulu.
 
Dulunya tiap orang rata-rata bisa berkonsentrasi selama 12 detik, kini hanya tinggal 8 detik saja.

4. Kebanyakan gula

Foto: Thinkstock
Di tahun 2012, UCLA melakukan studi terhadap tikus dan menemukan bahwa konsumsi fruktosa atau gula sederhana yang terkandung dalam buah-buahan, madu dan sayur-mayur ternyata dapat memperlambat kerja otak.
 
"Sel-sel otak itu memang butuh glukosa untuk bisa berfungsi, tetapi kalau kebanyakan juga berbahaya," terang seorang pakar nutrisi, Dr Sarah Brewer.

5. Menonton reality show

Foto: Thinkstock
Di tahun 2008, seorang psikolog dari Austria bernama Markus Appel melakukan pengamatan terhadap 81 partisipan yang disuguhi tontonan berupa reality show buatan, kemudian meminta mereka menjalani sebuah tes. Hasilnya, mereka yang banyak menonton reality show ataupun film akan lebih cenderung percaya pada apa yang terjadi di dunia fiksi tersebut.

Dan jika dibiarkan, lama-kelamaan ini akan mempengaruhi kemampuan kognitif orang yang bersangkutan.

6. Jet lag

Foto: Getty Images
Pada orang-orang tertentu, jet lag ternyata dapat berlangsung hingga berminggu-minggu. Dan dari penelitian terhadap hamster ditemukan bahwa jet lag mengakibatkan otaknya kesulitan memproduksi sel saraf baru, terutama di bagian hippocampus yang berperan penting dalam menyimpan memori.

Selain itu, kemampuan si hamster untuk mempelajari sesuatu juga cenderung menurun. Bahkan efeknya masih bisa terlihat meski jet lag-nya sudah berlangsung satu bulan sebelumnya.

7. Mengunyah permen karet

Foto: nyul/Thinkstock
Mengunyah permen karet sebelumnya dikatakan dapat membantu meningkatkan kekuatan otak. Namun dari hasil penelitian terbaru fakta ini ternyata tidaklah benar. Mengunyah permen karet ketika melakukan suatu kegiatan dapat mengalihkan perhatian otak, terutama dari ingatan jangka pendek, seperti ketika mengingat-ingat daftar barang yang harus dibeli.
 
"Apalagi kalau ini dilakukan selama berjam-jam," imbuh Dr Brewer.
Halaman 2 dari 8
Mengonsumsi lemak jenuh seperti daging, keju dan mentega dalam porsi besar dapat menurunkan kemampuan menyerap informasi baru, memicu munculnya respons lambat, merusak daya ingat serta mengakibatkan depresi, meskipun studi ini kebanyakan baru dilakukan pada tikus.
 
University of Montreal juga menemukan bahwa konsumsi lemak jenuh dalam jumlah tinggi juga mengakibatkan 'gangguan sirkuit otak yang berdampak terhadap munculnya gangguan mood, kecanduan obat-obatan dan overeating atau kecenderungan makan dalam porsi berlebih'.

Earl Miller, pakar ilmu saraf dari MIT pernah menjelaskan bahwa otak tidak dibuat untuk multitasking. Jika hal ini tetap dilakukan, maka harus ada yang dikorbankan. "Tiap kali multitasking, glukosa (bahan bakar otak) yang tebruang semakin banyak, dan menyebabkan otak mudah lelah," katanya.
 
Miller menambahkan, kapasitas kognitif yang terbatas membuat otak tak dapat sepenuhnya menjadi fokus pada satu pekerjaan, meskipun orang yang bersangkutan merasa sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus. Padahal multitasking hanya akan memenuhi otak dengan kortisol (hormon stres) dan adrenalin yang mencegah seseorang berpikir jernih.

Sejak ditemukannya mesin pencari Google, seseorang bisa mencari informasi apapun, kapanpun dan di manapun. Namun karena mesin ini, memori otak jadi jarang digunakan.

Meski kebiasaan ini tidak berdampak terhadap kinerja otak, peneliti dari Columbia University mengungkap, kebiasaan ini mengubah cara kita menyimpan ingatan. Dari yang dulunya bisa mengingat informasi yang dibutuhkan menjadi hanya mengingat di mana informasi itu disimpan. Lagipula orang-orang zaman sekarang tak lagi bisa berkonsentrasi dalam waktu lama seperti orang dulu.
 
Dulunya tiap orang rata-rata bisa berkonsentrasi selama 12 detik, kini hanya tinggal 8 detik saja.

Di tahun 2012, UCLA melakukan studi terhadap tikus dan menemukan bahwa konsumsi fruktosa atau gula sederhana yang terkandung dalam buah-buahan, madu dan sayur-mayur ternyata dapat memperlambat kerja otak.
 
"Sel-sel otak itu memang butuh glukosa untuk bisa berfungsi, tetapi kalau kebanyakan juga berbahaya," terang seorang pakar nutrisi, Dr Sarah Brewer.

Di tahun 2008, seorang psikolog dari Austria bernama Markus Appel melakukan pengamatan terhadap 81 partisipan yang disuguhi tontonan berupa reality show buatan, kemudian meminta mereka menjalani sebuah tes. Hasilnya, mereka yang banyak menonton reality show ataupun film akan lebih cenderung percaya pada apa yang terjadi di dunia fiksi tersebut.

Dan jika dibiarkan, lama-kelamaan ini akan mempengaruhi kemampuan kognitif orang yang bersangkutan.

Pada orang-orang tertentu, jet lag ternyata dapat berlangsung hingga berminggu-minggu. Dan dari penelitian terhadap hamster ditemukan bahwa jet lag mengakibatkan otaknya kesulitan memproduksi sel saraf baru, terutama di bagian hippocampus yang berperan penting dalam menyimpan memori.

Selain itu, kemampuan si hamster untuk mempelajari sesuatu juga cenderung menurun. Bahkan efeknya masih bisa terlihat meski jet lag-nya sudah berlangsung satu bulan sebelumnya.

Mengunyah permen karet sebelumnya dikatakan dapat membantu meningkatkan kekuatan otak. Namun dari hasil penelitian terbaru fakta ini ternyata tidaklah benar. Mengunyah permen karet ketika melakukan suatu kegiatan dapat mengalihkan perhatian otak, terutama dari ingatan jangka pendek, seperti ketika mengingat-ingat daftar barang yang harus dibeli.
 
"Apalagi kalau ini dilakukan selama berjam-jam," imbuh Dr Brewer.

(lll/vit)

Berita Terkait