Penelitian yang dikepalai oleh Iffat Rahman dari Karolinska Institute di Stockholm, Swedia, ini melibatkan lebih dari 33 ribu pria dan dilakukan sejak 1998 hingga 2012. Saat usia partisipan rata-rata 60 tahun, mereka diminta untuk melaporkan kebiasaan olahraga mereka dalam satu tahun terakhir serta pada saat berusia 30-an.
Selama 13 tahun penelitian ini berjalan, para peneliti mencatat lebih dari 3.600 gejala awal gagal jantung, termasuk 419 kematian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya penelitian ini menyimpulkan bahwa pria yang berolahraga dengan intensitas sedang setiap harinya dapat meminimalisir risiko gagal jantung sebesar 21 persen. Sedangkan pada partisipan yang berolahraga dengan durasi satu jam per minggu, bisa meminimalisir risiko gagal jantung sebesar 14 persen.
Selain itu, kelompok yang paling jarang berolahraga dilaporkan memiliki risiko gagal jantung 69 persen lebih tinggi. Namun yang mengejutkan adalah kesimpulan bahwa kelompok yang berolahraga dengan intensitas tinggi malah memiliki risiko sebesar 31 persen.
"Hasil penelitian ini mengonfirmasi penelitian-penelitian sebelumnya yang menyimpulkan bahwa orang yang jarang beraktivitas fisik memiliki risiko gagal jantung yang lebih besar," ujar Rahman seperti dikutip dari Medicine Net, Jumat (14/8/2015).
Sayangnya, tidak diperoleh informasi mengenai jenis olahraga seperti apa yang dilakukan oleh partisipan pada kelompok 'olahraga intensitas tinggi' ini. Para peneliti juga belum bisa menentukan penyebabnya. Namun mereka berasumsi bahwa hal ini mungkin terjadi karena aktivitas abnormal pada kinerja jantung yang dipicu oleh aktivitas olahraga yang terlalu intens.
Kesimpulan mengenai olahraga berintensitas tinggi malah dapat meningkatkan risiko gagal jantung dianggap masih memerlukan konfirmasi dalam penelitian lebih lanjut menurut Dr Gregg Fonarow, profesor kardiologi di University of California, Los Angeles.
Baca juga: Risiko Penyakit Jantung Lebih Tinggi pada Orang yang Gemar Konsumsi Alkohol
Gagal jantung terjadi ketika otot jantung melemah dan tidak dapat memompa darah secara efektif. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari latar belakang penelitian ini, di dalam hidupnya, setiap orang memiliki risiko mengalami gagal jantung sekitar 20 persen.
Temuan ini disandingkan dengan penelitian lainnya yang menunjukkan bahwa olahraga dengan intensitas sedang mampu membantu kesehatan, kata Keteyian, salah satu peneliti di tim Rahman. Olahraga dengan intensitas sedang juga telah terbukti mengurangi risiko gagal jantung, darah tinggi, dan diabetes, katanya.
"Sebagian besar kasus gagal jantung dapat dicegah. Seiring dengan olahraga, strategi sehat lainnya termasuk menjaga tekanan darah, dan kolesterol, menjaga berat badan, dan tidak merokok," tambah Fonarow. (mrs/up)











































