Hal ini dibuktikan peneliti dari Centers for Disease Control (CDC), Atlanta, Georgia setelah menganalisis jawaban yang diberikan 600 responden pria berumur antara 18-50 tahun.
Tiap responden diminta mengutarakan persepsi mereka terhadap gender pria itu sendiri. Kemudian responden ditanya tentang bagaimana mereka memandang imej dirinya sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Bocah Ini Bukan Anak SD, Melainkan Pria Berusia 26 Tahun Lho
Hasilnya, 'sindrom pria kecil' memang benar-benar ditemukan di tengah masyarakat. Dan bagi yang merasakannya, mereka cenderung menjadi agresif dan berpeluang tiga kali lebih besar untuk melakukan penganiayaan dengan senjata atau mengakibatkan cedera demi membuktikan bahwa mereka bisa dianggap maskulin.
"Nampaknya pemahaman masyarakat terhadap nilai maskulinisme itu sendiri telah memicu tekanan yang luar biasa bagi pria," ungkap peneliti seperti dikutip dari jurnal Injury Prevention, Kamis (27/8/2015).
Setidaknya temuan ini memperkuat hasil studi yang dilakukan Oxford University sebelumnya, di mana perasaan inferior memunculkan sikap paranoid dan sulit percaya kepada orang lain.
Nama lain dari 'sindrom pria kecil' adalah Napoleon Complex, merujuk pada ambisi sang panglima perang dari Prancis untuk menjadi raja yang disegani di Eropa. Nasibnya ternyata tak jauh berbeda dengan Hitler yang ingin menaklukkan dunia namun menemui kegagalan.
Baca juga: Sindrom Penis Kecil, Gangguan yang Bikin Pria Selalu Khawatir Ukuran Mr P
Konon ambisi yang dimiliki keduanya muncul karena perawakan tubuh mereka yang pendek, sehingga memicu perasaan insecure. Padahal menurut ahli sejarah untuk ukuran pria dewasa, Napoleon maupun Hitler sebenarnya tidaklah begitu pendek.
Semasa hidupnya, Napoleon mempunyai tinggi badan 170 cm yang menjadi tinggi rata-rata pria di masa itu. Begitu juga dengan Hitler yang ternyata memiliki tinggi mencapai 175 cm. (lll/vit)











































