Namun alat untuk menangani patah tulang di Indonesia masih terbilang sederhana. Satu set bidai berisi 7 batang kayu dalam berbagai ukuran dirasa masih terlalu berat, dan tidak praktis.
Hal ini juga dikeluhkan oleh salah seorang pengajar di Ilmu Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Dionita. Suatu ketika ia mengungkapkan keinginannya untuk dibuatkan bidai yang bisa dimasukkan ke dalam tas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() Bi Fun yang bisa dimasukkan dalam tas sehingga lebih praktis (Foto: Lila/detikHealth) |
"Waktu itu ia mengeluh bidai yang ada saat ini (berukuran, red) besar dan berat sehingga tidak praktis untuk dibawa. Padahal bidai diperlukan untuk mengurangi tingkat keparahan dari patah tulang itu sendiri," tutur Dionita dari Ilmu Keperawatan, di kampusnya, dan ditulis pada Sabtu (26/9/2015).
Baca juga: Prosedur Ini Bisa Jadi Alternatif Atasi Nyeri Jika Enggan Operasi
Terinspirasi dari hal itu, Dionita dan dua rekannya, Sheptian (Fakultas Pertanian) dan Fuad Sumantri (Fakultas Kehutanan) berinisiatif mengembangkan bidai portabel di bawah bimbingan dr Rustamaji, M.Kes. Oleh tim Dionita, bidai ini mereka sebut dengan Bi Fun.
Dalam kesempatan yang sama, Sheptian lantas menjelaskan bidai buatannya memiliki ukuran yang sama dengan bidai asli namun lebih ringan dan praktis dibawa kemanapun. Bidai ini terbuat dari bahan kayu waru dengan lebar 5 cm dan tebal 1 cm.
Mereka juga melengkapinya dengan tali khusus yang memiliki perekat sehingga dapat disesuaikan dengan lingkar tangan tiap pasien. Bidai-bidai ini kemudian dimasukkan ke dalam semacam tas sebagai wadah, namun dapat dilipat. Tas ini juga tahan air.
"Untuk variasinya kita buat 9 buah, menyesuaikan dengan kebutuhan atau jenis patah tulangnya," imbuhnya.
Meskipun terlihat tipis, Sheptian memastikan bidai mereka dapat menahan beban hingga 125 kg. Yang tak kalah menarik, tim Dionita dan Sheptian hanya menghabiskan biaya sebesar 100-150 ribu Rupiah untuk mengembangkan Bi Fun.
"Padahal kalau dibandingkan dengan bidai yang asli, satu batang yang paling besar itu harganya sudah 120 ribu Rupiah. Sedangkan kami bisa membuat 7 ukuran dengan biaya hanya 150 ribu Rupiah," tutur Sheptian bangga.
Kendati demikian di awal pengembangan, Sheptian mengaku mereka sempat kesulitan menemukan pustaka atau acuan penentuan ukuran bidai untuk keperluan medis.
"Standar ukuran alat gerak tubuh manusia, terutama untuk orang Indonesia itu belum ada. Jadi kami harus mengukur sendiri beberapa orang lalu menentukan rata-ratanya," jelasnya.
![]() Bi Fun. bidai 'ciptaan' mahasiswa UGM (foto: Lila/detikhealth) |
Namun tak sia-sia. Animo masyarakat terhadap bidai bikinan tim Dionita cukup besar sehingga mereka sudah berencana memproduksi Bi Fun secara massal. Namun sebelum itu, mereka akan berangkat ke Kendari untuk mempresentasikan temuan ini dalam Pekan Ilmiah Nasional 2015, yang sedianya akan diselenggarakan di Universitas Halu Oleo, Oktober mendatang.
Baca juga: Simpel, Rutin Lompat 2 Menit Tiap Hari Bisa Bantu Jaga Kesehatan Tulang (lll/up)













































