Kisah Veldboer, Wujudkan Keinginan Terakhir Orang Sebelum Meninggal

Kisah Veldboer, Wujudkan Keinginan Terakhir Orang Sebelum Meninggal

Nurvita Indarini - detikHealth
Senin, 05 Okt 2015 13:00 WIB
Kisah Veldboer, Wujudkan Keinginan Terakhir Orang Sebelum Meninggal
Veldboer dan istrinya (Foto: Stichting Ambulance Wens)
Amsterdam - Kematian memang suatu kepastian bagi makhluk bernyawa. Namun beberapa orang yang 'mengetahui' hidupnya tak lama lagi akibat sedang menderita sakit parah, tentu menjadi kebahagiaan tersendiri ketika keinginan kecilnya terpenuhi sebelum ajal menjemput.

Untuk mewujudkan keinginan terakhir orang-orang sebelum meninggal, Stichting Ambulance Wens atau Ambulance Wish Foundation pun didirikan. Pendirinya adalah seorang sopir ambulans, Kees Veldboer. Pengalamannya menjadi sopir ambulans membuatnya paham bahwa orang-orang yang sakit parah punya keinginan kecil yang ingin diwujudkan sebelum meninggal.

Upaya Veldboer mendirikan yayasan itu bermula pada peristiwa yang dialaminya November 2006 silam. Kala itu Veldboer menyetir ambulans yang di dalamnya terdapat pasien sakit parah, Mario Stefanutto. Stefanutto akan dipindahkan ke rumah sakit lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun tidak selancar yang diharapkan, rumah sakit penerima menyatakan tidak siap menerima Stefanutto. Padahal Stefanutto sudah di atas tandu dan menyebut tidak mau kembali ke tempat tidur RS yang tiga bulan ini akrab dengannya. Mendengar itu, Veldboer menanyakan apakah Stefanutto ingin pergi ke suatu tempat.

Stefanutto yang merupakan mantan pelaut itu minta dibawa ke kanal Vlaardingen, sehingga dia bisa melihat lautan dan mengucapkan salam perpisahan pada pelabuhan Rotterdam. Beruntung saat itu hari cerah, sehingga mereka bisa berada di dermaga selama hampir satu jam. Air mata sukacita pun mengalir deras di pipi Stefanutto.

"Lalu saya bertanya kepadanya 'Apakah Anda ingin berlayar lagi?' tapi dia bilang mustahil karena saat ini cuma bisa berbaring di tandu," kata Vlaardingen seperti dikutip dari BBC dan ditulis pada Senin (5/10/2015).

Baca juga: Kanker Stadium Akhir, Ibu Ini Bertekad Lunasi Kredit Rumah demi Anak

Foto: Stichting Ambulance Wens

Veldboer pun bertekad untuk membuat keinginan terakhir pria tersebut menjadi kenyataan. Dia meminta izin bosnya untuk meminjam ambulans di hari libur, juga meminta bantuan teman-temannya, serta menghubungi agen perahu wisata di sekitar pelabuhan Rotterdam. Semua senang memberikan bantuan.

Suatu hari, tepatnya hari Jumat, Stefanutto dijemput dari rumah sakit untuk diajak berlayar. Ternyata itu adalah pengalaman yang begitu membahagiakan Stefanutto, mengingat masih ada orang yang peduli pada orang lain.

"Saya bisa memberi tahu Anda dari pengalaman saya bahwa gerakan kecil dari orang lain bisa berdampak besar," ucap membawanya yang ditulis seminggu sebelum kematiannya.

Setelah itu, Veldboer dan istrinya yang merupakan seorang perawat, Ineke, memulai yayasan untuk mewujudkan keinginan terakhir orang-orang sebelum meninggal. Dalam delapan tahun, mereka telah memiliki 230 relawan, enam ambulans dan rumah untuk berlibur. Tak tanggung-tanggung sudah 7.000 keinginan yang dipenuhi.

"Pasien termuda kami umur 10 bulan, anak kembar. Dia selalu di rumah sakit anak dan belum pernah ada di rumah. Orang tuanya ingin duduk di sofa rumah bersamanya meski cuma sekali," tutur Veldboer.

Sedangkan pasien tertua yang pernah bersentuhan dengan yayasannya adalah perempuan berusia 101 tahun. Nenek itu ingin naik kuda untuk terakhir kalinya, sehingga Veldboer dkk mengangkatnya ke kuda dengan bantuan truk. Dengan wajah bahagia, si nenek melambaikan tangan ke semua orang.

Baca juga: Demi Sang Ayah yang Sakit Kanker, Gadis Ini Lakukan 'Latihan' Pernikahan

Stichting Ambulance Wens terkadang langsung memenuhi keinginan orang-orang di hari keinginan itu dibuat atau disampaikan kepada mereka. Mereka tidak akan menunda dan seolah mengerjakan semua dengan lancar. Ya, siapapun yang memudahkan urusan orang lain bukankan akan dimudahkan pula urusannya?

Rata-rata dalam sehari yayasan amal itu membantu mewujudkan keinginan empat orang. Berapapun usianya akan mereka bantu, karena satu-satunya ketentuan adalah pasien tersebut sakit parah sehingga harus menggunakan tandu untuk dipindahkan.

Setiap kali 'misi' dilakukan, demi keamanan pasien akan selalu disertai perawat yang terlatih dan berpengalaman. Sopir ambulansnya pun sangat terlatih karena mereka berasal dari kepolisian maupun pemadam kebakaran. Tak cuma itu ambulasn dirancang khusus agar pas bagi pasien di dalamnya. Tak cuma itu, pasien juga menerima boneka beruang lucu bernama Mario, nama depan pasien pertama mereka: Mario Stefanutto. (vit/up)

Berita Terkait