Dr Eunine Sri Tyas Suci selaku ketua panitia dan ketua program studi magister psikologi Unika Atmajaya, perlu ada satu media agar masyarakat bisa dengan mudah menerima pesan tentang kesehatan jiwa. Nah, salah satunya yakni melalui film yang merupakan media audiovisual di mana informasi yang disampaikan lewat film akan lebih mudah ditangkap.
"Film bisa dinikmati di berbagai tempat. Umumnya kita sambut hari Kesehatan Jiwa yang jatuh tiap 10 Oktober kan berupa diskusi, akademik gitu. Nah, kita bikin acara yang lebih bisa diterima masyarakat," tutur Tyas di Unika Atmajaya, Jakarta Selatan, Senin (5/10/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Tyas, merepresentasikan masalah kesehatan jiwa di sekitar tidak melulu hanya ada di institusi kesehatan atau RS Jiwa. Dengan begitu, diharapkan lewat film, masyarakat bisa lebih memahami dan menghargai martabat mereka yang mengalami gangguan jiwa.
"Kami ingin mencanangkan pada masyarakat supaya lebih paham gangguan jiwa, menghilangkan label 'gila' untuk ODGJ dan bisa menerima ODGJ," lanjut Tyas.
Film-film yang diputarkan dalam pekan ProJiwa di antaranya adalah film layar lebar yang mengangkat isu kesehatan jiwa, seperti 'Still Alice' dan 'Beautiful Mind'. Kemudian, ada beberapa film dokumenter produksi Elemental Production. Salah satunya film dokumenter berjudul 'Memory of My Face'.
Film tersebut menceritakan tentang pria bernama Bambang yang mengidap skizoaffective yang akhirnya bisa sembuh berkat dukungan keluarga dan masyarakat sekitar. Dalam film tersebut ditampilkan pula cuplikan keseharian Bambang ketika masih dirawat di RSJ Magelang. Pekan ProJiwa diadakan tanggal 5-8 Oktober 2015 di Unika Atmajaya.
Baca juga: Ciri Khas Skizofrenia, Gangguan Bipolar, dan Kepribadian Ganda (rdn/up)











































