Dalam rangka memperingati Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) yang jatuh tiap tanggal 8 Oktober, ketua Komite Mata Nasional Andy F Noya menyinggung bahwa katarak masih menjadi salah satu masalah penglihatan terbesar di Indonesia.
"Angka penderita katarak di Indonesia sangat tinggi, bahkan kita peringkat kedua tertinggi di dunia," ungkap Andy di sela-sela peringatan World Sight Day di Jakarta Eye Center, Kedoya, Jakarta Barat, Sabtu (10/10/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Operasi Katarak Sudah Dilakukan Ribuan Tahun Lalu, Seperti Apa?
"Tingginya tingkat penyakit katarak tidak dapat disepelekan, karena sangat mengganggu tingkat produktivitas masyarakat. Padahal, tingkat harapan hidup masyarakat Indonesia semakin tinggi, bahkan ada yang bekerja meski usianya sudah di atas 55 tahun," lanjut Andy.
Di Indonesia, selain faktor usia, paparan sinar UV yang cukup intens juga menyebabkan tingginya jumlah pasien katarak. Hadir dalam kesempatan sama, dr Setiyo Budi Riyanto, SpM dari JEC menyebutkan bahwa penderita katarak di bawah usia 55 tahun kebanyak berasal dari kawasan pantai.
Meski demikian, bukan berarti katarak tak bisa diatasi. Kini, sudah banyak dilakukan operasi mata gratis, baik oleh RS, yayasan, atau non-governmental organization (NGO). Direktur Medik JEC dr Darwan M Purba SpM mengatakan sekarang juga sudah banyak dokter yang melakukan operasi katarak gratis di daerah asalnya.
"Saya setiap setahun sekali bahkan ke kampung saya," ujar dr Purba.
Baca juga: Infeksi Usai Operasi Katarak Bisa 0% dengan Prosedur Tanpa Pisau Bedah Ini
(rdn/rdn)











































