Pakar deteksi kebohongan, Handoko Gani, MBA, BAII mengungkapkan, bohong pada dasarnya merupakan penyimpangan ekspresi normal dari seseorang. Untuk itu, seseorang perlu melihat pakem bagaimana kebiasaan orang yang mereka ajak bercakap-cakap.
"Kita perlu tahu oh orang ini emang suka garuk-garik hidung kalau ngomong. Nah, bukan berarti dia bohong kan. Tapi kalau dia biasanya ngobrol itu nggak ngapa-ngapain, biasa aja, tapi saat lagi ngomong sering banget menelan ludah, berarti kan ada penyimpangan," kata Handoko usai Media Briefing 'Festival Bohong Indonesia 2015' di Hong Kong Cafe, Menteng, Jakarta, Kamis (29/10/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Tulisan Berubah, Bisa Jadi Ada Sesuatu yang Dialami Anak
Sebab, dikatakan Handoko, dalam ilmu fisiologi kedokteran, ketika seseorang cemas atau takut, ia akan memerintahkan otot tubuh bereaksi, salah satunya pada saliva di mana kelenjar ludah menjadi kering. Perubahan lain yang bisa dialami orang yang cemas atau ketakutan adalah wajah pucat, dan tubuh lebih membungkuk
"Tapi kita harus tahu kebiasaan orang ini gimana. Kalau dia memang biasa begitu ya nggak apa-apa. Tapi kalau orangnya baru kenal, nggak tahu kebiasaan si orang garuk-garuk kalo ngomong, jadinya pas tahu orang ini garuk-garuk, curiga," tutur Handoko.
Ia menjelaskan, lima komponen yang bisa digunakan untuk mendeteksi kebohongan adalah ekspresi, gesture, suara, verbal (kata), dan gaya bicara. Kemudian, komponen ke-enam dengan memanfaatkan reaksi simpatetik atau parasimpatetik tubuh dan perubahan warna tubuh, yang bisa dideteksi lewat alat yaitu poligraf.
Gesture dan wajah lebih sering digunakan untuk menutupi kebohongan. Ekspresi wajah yang dianalisa tidak hanya makro. Misalkan senyum saja atau nangis dan sedang sedih. Tapi, ekspresi mikro juga diamati. Di mana ekspresi hanya digerakkan satu-dua otot wajah yang hanya terjadi satu per 25 detik saja. Ekspresi mikro selain dilihat langsung, juga bisa dilihat dari video yang dilambatkan. Ekspresi mikro tidak bisa disembunyikan atau dikontrol karena ini berhubungan dengan otak yang akan membuat feedback terhadap stimuli.
Soal validitas, menurut Handoko ekspresi wajah paling valid karena emosi yang dirasakan pada dasarnya akan keluar melalui ekspresi wajah. Sedangkan kekuatan validitas kedua yakni gesture. Karena, gesture yang dikeluarkan seseorang bergantung suku bangsa, geografis, dan profesi. Misal di Arab Saudi, jarak bicara wanita dan pria tidak seleluasa di Indonesia.
Baca juga: Anak Suka Coret-coret, Tanda Kreatif? (rdn/up)











































