Saat Berjuang Lawan Ebola, Wanita Paruh Baya Ini Terkena Serangan Stroke

Saat Berjuang Lawan Ebola, Wanita Paruh Baya Ini Terkena Serangan Stroke

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Selasa, 17 Nov 2015 15:34 WIB
Saat Berjuang Lawan Ebola, Wanita Paruh Baya Ini Terkena Serangan Stroke
Foto: thinkstock
Jakarta - Untuk bisa survive atau bertahan dari serangan Ebola saja sudah sulit, ditambah lagi jika terjadi komplikasi. Namun seorang wanita di Afrika Barat dilaporkan berhasil sembuh dari serangan Ebola dan juga stroke sekaligus. Bagaimana bisa?

Kisah bermula ketika seorang wanita yang diperkirakan berumur antara 40-50 tahun ini mendatangi pusat pengobatan Ebola di Afrika Barat pada bulan Januari lalu.

Ia mengatakan kepada staf yang ada, empat hari sebelumnya ia mengalami demam, lesu, nyeri pada sendi, dan muntah-muntah. Dari hasil tes, wanita ini dipastikan terkena serangan virus Ebola.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: WHO Nyatakan Sierra Leone Sudah Bebas dari Ebola

Karena belum ada vaksin atau pengobatan spesifik untuk pasien Ebola, jadilah tim medis hanya memberi pengobatan seadanya, seperti pemberian cairan intravena, antibiotik dengan spektrum luas, multivitamin, dan juga obat pereda nyeri.

Namun di hari ketiga, tiba-tiba saja wanita ini mengalami stroke pada otak kirinya. Terlihat dari sisi kanan tubuh si wanita ini yang mengalami kelumpuhan. Kaki tangannya tak dapat digerakkan, dan ia sulit berbicara.

"Stroke ini mengejutkan banyak dokter, terutama yang sudah menangani begitu banyak kasus Ebola. Meski terkadang muncul komplikasi seperti malaria atau HIV, tetapi tidak pernah menemui yang seperti ini," ungkap Dr Paul Dhillon dari Canadian Armed Forces, yang mempublikasikan kasus ini ke jurnal BMJ Case Reports.

Untungnya, saat wanita itu dirawat, ada seorang ahli stroke yang sedang menjadi sukarelawan di pusat pengobatan tersebut. Namun karena fasilitas itu tidak memiliki CT scan, dokter tak dapat menentukan apakah stroke yang dialami pasien dipicu pendarahan pada otak (hemorrhagic) ataukah stroke iskemik (penyumbatan darah).

"Stroke iskemik bisa diatasi dengan aspirin tetapi tim dokter memutuskan tidak memberinya obat, karena khawatir jika strokenya akibat pendarahan. Bisa-bisa kondisinya malah memburuk. Jadi mereka merawatnya sebisanya," papar Paul seperti dikutip dari Livescience, Selasa (17/11/2015).

Beberapa hari kemudian, kondisi wanita ini membaik, bahkan kakinya sudah bisa digerakkan. Pada akhirnya pasien ini dinyatakan negatif dari Ebola setelah menjalani dua kali pemeriksaan, sehingga ia lantas diperbolehkan pulang. Total ia hanya menjalani rawat inap selama 15 hari.

Baca juga: Sembuh dari Ebola, Perawat Ini Malah Terserang Meningitis

Ahli penyakit menular dari Vanderbilt University School of Medicine, Dr William Schaffner menduga Ebola dan serangan stroke yang dialami si pasien memang ada keterkaitannya.

"Sebab infeksi Ebola itu mampu menciptakan vaskulitis atau peradangan pada pembuluh darah, dan juga di sistem saraf pusat pasien, sehingga ini dapat memicu stroke," terangnya.

Namun ia mengakui baru kali ini mendengar ada kasus stroke yang terjadi pada pasien Ebola. Sebelumnya di Inggris dilaporkan seorang perawat yang pernah terjangkit Ebola dan sembuh kembali dilarikan ke rumah sakit karena terserang meningitis atau radang selaput otak.

Padahal awalnya dikira virus Ebola dalam tubuh si perawat kembali menyerang. "Memang penyakitnya disebabkan oleh virus yang sama, namun jenis penyakitnya berbeda. Virus Ebola yang ada di dalam tubuh Pauline masuk ke otak dan menyebabkan meningitis, bukan Ebolanya kembali kambuh," tutur dr Michael Jacobs, pakar penyakit infeksi dari London Royal Free Hospital.

Baru kali itu pula peneliti menemukan kasus virus Ebola yang juga bisa memicu meningitis. (lll/vit)

Berita Terkait