Rabu, 18 Nov 2015 11:29 WIB

Masakan Minang dan Kesehatan

Masakan Minang yang Bersantan Itu Tidak Sehat? Profesor Gizi Ini Menyangkalnya

Martha Heriniazwi Dianthi - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Warung makan yang menyajikan masakan khas Minang menjamur di mana-mana. Ini bukti bahwa masakan Minang dengan santan sebagai ciri khasnya itu banyak penggemar. Bahkan rendang beberapa waktu lalu telah dimasukkan dalam daftar makanan paling enak di dunia.

Namun banyak yang mengkhawatirkan dampak kesehatan dari makanan bersantan semacam itu. Dikhawatirkan makanan tersebut bisa menyumbang kolesterol jahat dalam tubuh, sehingga bisa memicu sakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke

Namun kekhawatirkan itu ditepis Prof dr Nur Indrawaty Lipoeto, MMedSci, Phd,  guru besar Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Prof Indrawaty dalam penelitian yang pernah dilakukannya  menyebut masakan Minang sebenarnya sehat.

"Pemahaman itu sangat salah. Masakan Padang juga menyehatkan kok. Apalagi santan dan bumbu yang terdapat pada masakan Minang memiliki kemampuan sebagai antioksida yang baik untuk tubuh," kata Prof dr Nur Indrawaty Lipoeto, MMedSci, Phd, saat berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (18/11/2015).

Baca juga: Kebanyakan Konsumsi Makanan Bersantan, Perut Anak Juga Bisa Kembung

Menurutnya, apabila orang Minang berhenti mengonsumsi santan dan beralih ke masakan gorengan, malah bisa bahaya. Apalagi jika penggorengan makanan dilakukan dengan menggunakan minyak yang telah berkali-kali digunakan.

Sebaliknya dengan menggunakan santan, biasanya masyarakat akan lebih banyak menambahkan bumbu dari rempah-rempah. Nah inilah rahasia sehatnya. Sebab rempah-rempah seperti jahe, kunyit dan lengkuas yang digunakan kaya antioksidan.

"Bumbu pada masakan Minang yang memakai bahan santan merupakan rahasia sehat dari makanan orang Minang. Sangat tidak benar jika masakan Minang dianggap sebagai pemicu penyakit jantung," terang Prof Indrawaty.

Masakan Minang yang sehat, sambungnya, selain yang menggunakan aneka remoah antioksidan dalam bumbu, juga yang menggunakan bahan-bahan masakan yang segar. Selain itu hendaknya masakan tidak dipanaskan berkali-kali. Karena makanan apapun akan berkurang nutrisinya jika terus-menerus dipanaskan.

Baca Juga: Kolesterol Tinggi, Makanan Apa Saja yang Bisa Dikonsumsi?

"Selama ini banyak orang Minang yang tidak percaya diri ketika bicara tentang makanan karena menganggap masakan khas Minangkabau tidak sehat. Padahal kenyataannya tidak ada masalah," lanjut dosen yang pernah mengenyam pendidikan di Monash University, Australia, ini.

Prof Indrawaty memaparkan masakan khas Minang telah dikonsumsi nenek moyang sejak dulu. Awalnya kekhawatiran akan bahaya kesehatannya tidak ada. Sampai pada 1950-an ketika ada penelitian yang menyebut bahaya minyak jenuh lantaran bisa memicu sakit jantung.

"Penelitian mereka terhadap orang yang mengonsumsi lemak jenuh hewani. Orang Eropa dan Amerika tidak ada yang mengonsumsi kelapa. Sementara kadar lemak jenuh kelapa dan hewan itu berbeda," terang Prof Indrawaty. (vit/vit)