Riset dari Iowa State University menunjukkan 25 persen orang memiliki risiko kematian 1,57 kali lebih besar dibanding mereka yang lebih sedikit merasa marah. Penelitian diambil dari 1.307 pria yang telah dipantau selama 40 tahun.
Tingkat kemarahan mulai diukur antara 1968 sampai 1972 hanya dengan bertanya "Apakah Anda mudah marah?". Kemudian tingkat seberapa sering partisipan menjawab 'iya' dikorelasikan dengan meningkatnya risiko kematian dini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Ketika Olahraga Sudah Menjadi Candu
"Ini bukanlah tentang kekesalan yang hanya kadang-kadang munculnya. Orang-orang ini kesal dan marah secara konsisten. Pertanyaan ini bukan tentang mereka yang hanya sementara marahnya, tetapi mereka yang memiliki kecenderungan tinggi untuk marah," ujar Amelia Karraker, pemimpin penelitian seperti dikutip pada Jumat (20/11/2015).
Tidak sulit membayangkan bagaimana meningkatnya tekanan jantung dan darah pada orang yang secara sering merasa kesal dan marah. Studi Circulation dari kelompok sebanyak 3.873 pria dan wanita menemukan bahwa kemarahan pada pria (bukan wanita) meningkatkan risiko terkena fibrilasi atrial atau detak jantung yang tidak beraturan.
Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa semakin sering marah dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan sakit jantung, terutama saat seseorang merasa diperlakukan tidak adil. Pertanyaannya, apakah sehat jika mengekspresikan amarah? Jawabannya adalah mungkin saja, jika kemarahanya tidak berlangsung lama.
Baca juga: Wanita Ini Sebut Dirinya Sudah Meninggal Akibat Sindrom Langka (vit/vit)











































