Jumat, 27 Nov 2015 15:21 WIB

Ditangani Tepat, Orang dengan HIV Punya Harapan Hidup Sama dengan yang Sehat

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: Hasan Alhabshy Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Salah satu alasan mengapa seseorang enggan untuk melakukan tes human immunodeficiency virus (HIV) adalah karena takut. Ada kekhawatiran bila memang positif, maka akan bertambah beban masalah yang harus dipikirkan. Terlebih ada stigma di masyarakat.

Karena HIV belum bisa disembuhkan, banyak orang ketakutan bila sampai dirinya terjangkit. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Profesor Dr dr Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI, mengatakan tak perlu terlalu khawatir terhadap HIV karena bila ditangani maka tak ada bedanya dengan orang sehat.

"Banyak yang bertanya 'kalau saya kena HIV bisa hidup sampai kapan?' Jawabannya saat ini kita bisa bilang bahwa orang dengan HIV usia harapan hidupnya bisa sama dengan orang sehat," kata dr Samsuridjal ketika memberikan seminar HIV di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Jumat (27/11/2015).

Hal tersebut bisa tercapai karena adanya pemberian obat anti retroviral virus (ARV) yang bisa menekan HIV. Bila obat dikonsumsi secara teratur maka virus dalam seorang pengidap bisa tak terdeteksi lagi.

Baca juga: Ini Pentingnya Pendampingan Bagi Ibu Hamil yang Mengonsumsi ARV

Di Indonesia diperkirakan oleh Kementerian Kesehatan ada sekitar 600 orang dengan HIV AIDS (ODHA) atau 0,41 persen dari populasi. Namun demikian yang baru teridentifikasi baru 200 ribu orang dan yang mendapat obat hanya 51.300 orang.

dr Samsuridjal mengatakan masih minimnya pengidap yang terdeteksi dan mendapat obat adalah sebuah pekerjaan rumah (PR) untuk semua pihak. Pemerintah dan tenaga profesional harus semakin memperluas jangkauan deteksi dan masyarakat juga bisa mulai membuka diri dan hilangkan stigma.

"Kalau minum obat angka kematian menurun tajam, usia harapan hidup mendekati populasi non-HIV, bisa menikah dan punya anak tanpa menularkan, serta dapat hidup produktif jika mendapat kesempatan. Sekarang ini ODHA meninggal bukan karena penyakitnya tetapi lebih banyak karena jantung, liver, kanker, dan masalah pernapasan," pungkas dr Samsuridjal.

Baca juga: Klinik Berbasis Masyarakat Bantu Tekan Angka Lost to Follow Up pada ODHA
(fds/vit)