Dijelaskan oleh FAO bahwa konsumsi serangga memiliki keuntungan untuk lingkungan karena ia lebih mudah untuk didapatkan. Sebagai perbandingan misalnya di lahan yang sama untuk menghasilkan 200 gram daging sapi, seseorang bisa memperoleh 2 kilogram larva serangga layak makan.
Dengan hitungan tersebut itu artinya konsumsi serangga oleh populasi akan membawa emisi rumah kaca yang lebih sedikit. Semakin sedikit emisi maka dampaknya untuk lingkungan terutama iklim akan lebih baik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Ketagihan, Pria Ini Makan 5.000 Serangga karena Dianggap Lebih Bergizi
Menurut Beynon hal yang jadi tantangan sekarang adalah bagaimana membuat orang-orang di dunia terbiasa untuk memasukkan serangga ke dalam dietnya. Agar serangga bisa berpengaruh untuk lingkungan ia harus menjadi makanan pokok bukan sekadar camilan biasa.
Selain itu karena kebanyakan manusia juga sudah lama tak mengonsumsi serangga, tubuh menjadi sedikit kehilangan kemampuannya untuk mencerna serangga secara efektif dan hal ini bisa jadi potensi masalah.
"Kita sudah lama tak mengonsumsi serangga sehingga tubuh kita kehilangan kemampuan untuk mengolahnya, untuk mengambil semua nutrisi yang ada. Itu yang akan jadi kunci apakah kita bisa memakai serangga untuk konsumsi," pungkas Beynon.
Baca juga: Selain Kutu, Ini Daftar Serangga yang Pernah 'Salah Masuk' Tubuh Manusia (fds/vit)











































