Akan tetapi studi terbaru yang dilakukan Rotman Research Institute, Baycrest Health Services, Toronto menemukan, mereka yang punya ingatan seperti ini justru lebih riskan terserang demensia atau kepikunan.
Bagaimana bisa begitu? Ini dibuktikan peneliti dengan mengamati daya ingat 66 orang dewasa muda yang sehat dengan usia rata-rata 24 tahun. Masing-masing dari mereka diminta menyelesaikan sebuah kuesioner secara online.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara mengejutkan, peneliti dapat menemukan alasan di balik perbedaan daya ingat tiap orang. Ada yang cenderung mengingat sesuatu secara mendetail, dan ada juga yang tidak, hanya ingat saja tetapi tidak merinci.
Sebab ternyata partisipan yang ingatan autobiografisnya mendetail cenderung memperlihatkan konektivitas antarbagian otak yang tinggi, utamanya di antara medial temporal lobe dengan bagian otak yang berfungsi memproses rangsangan visual.
Sedangkan mereka yang ingatannya bagus tetapi tidak mendetail, medial temporal lobe-nya lebih terkoneksi pada bagian otak lain lagi.
Baca juga: Mudah Lupa? Jangan Asal Minum Vitamin, Perbaiki dengan Rajin Olahraga
Berikutnya, ketika terjadi penuaan dan demensia dini, masing-masing juga memperlihatkan gejala penurunan daya ingat yang berbeda.
"Mereka yang memiliki daya ingat mendetail justru lebih sensitif terhadap perubahan memori sekecil apapun. Sedangkan mereka yang bisa mengingat sesuatu tetapi tidak rinci dikatakan lebih resisten atau kebal terhadap perubahan memori," ungkap peneliti Dr Brian Levine yang juga berasal dari University of Toronto, seperti dikutip dari psychcentral, Kamis (17/12/2015).
Oleh karena itu, ketika terserang demensia, orang-orang dengan ingatan autobiografis yang kuat justru yang paling dirugikan. "Hal pertama yang terlihat saat terjadi penuaan, orang-orang ini akan lebih kesulitan, apalagi untuk mengingat detail suatu ingatan," imbuh Levine.
Baca juga: Cedera Saat Main Rugby Diduga Sebabkan John Kena Demensia di Usia 55 Tahun (lll/vit)











































