Maret: Dua Korban Meninggal di Tangerang Akibat Flu Burung

Kaleidoskop 2015

Maret: Dua Korban Meninggal di Tangerang Akibat Flu Burung

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 31 Des 2015 15:47 WIB
Maret: Dua Korban Meninggal di Tangerang Akibat Flu Burung
Foto: Getty Images
Jakarta - Wabah flu burung, khususnya virus H5N1, sempat menghantui Asia beberapa waktu lalu. Di Indonesia sendiri, virus ini sudah berhasil diberantas. Namun rupanya muncul kasus baru.

Di pertengahan Maret lalu dilaporkan dua warga Cipondoh, Tangerang, yang hanya diketahui berinisial T (40) dan MI (2) dinyatakan meninggal akibat positif flu burung H5N1. Keduanya berstatus ayah dan anak.
 
Dari data yang dihimpun detikHealth terungkap keduanya tidak meninggal dalam waktu yang bersamaan. T meninggal dunia pada tanggal 24 Maret 2015 pukul 16.25 WIB, di salah satu rumah sakit di Tangerang. Sementara anaknya sempat dirujuk ke RS Persahabatan 26 Maret 2015 pukul 02.00 WIB. Namun baru dua jam dirawat, MI sudah menghembuskan napas terakhirnya.

Tak lama kemudian, istri T, satu anaknya yang lain dan salah satu saudaranya dirawat di RS Persahabatan, Jakarta Timur untuk melakukan karantina dan mengantisipasi terjadinya penularan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Dua Orang Warga Cipondoh Meninggal, Positif Flu Burung H5N1

Laporan awal menunjukkan ketiganya dalam kondisi baik dan tidak mengalami demam serta panas tinggi seperti halnya pasien flu burung. Beruntung dari hasil pengujian laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan juga dipastikan bahwa virus flu burung tidak menular ke anggota keluarga lainnya.

Terlihat dari hasil sampel yang berasal dari usap tenggorok keluarga pasien dinyatakan negatif H5N1. "Hasil sample hari pertama dan juga hari kedua untuk Ny T adalah negatif H5N1, artinya dari dua sampel ini tidak menunjukkan flu burung," demikian tulis Kepala Balitbangkes saat itu, Prof Tjandra Yoga Aditama, SpP, MARS dalam surat elektroniknya.

Dari hasil penelusuran Kemenkes diduga pasangan ayah dan anak itu terserang H5N1 dari burung hantu peliharaan. "Jadi mereka ini tanggal 7 Maret 2015 main ke rumah kerabat di daerah Bogor. Kerabat mereka ini punya burung hantu peliharaan. Lalu burung hantu ini mati tanggal 8 Maret 2015," tutur dr Sigit Priohutomo, MPH, Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Kemenkes menjelaskan kronologinya.


dr Sigit tidak bisa memastikan apakah burung hantu ini meninggal akibat terserang flu burung atau tidak. Yang pasti, beberapa hari kemudian salah satu pasien berinisial MI mengidap demam tinggi dan dibawa ke rumah sakit.

"Mulai sakit itu tanggal 12 Maret 2015. Setelah itu dirawat di rumah sakit di Tangerang. Pasien T yang merupakan ayah dari MI meninggal tanggal 24 Maret 2015. Anaknya dirujuk ke RSUP Persahabatan tanggal 26 Maret meninggal hari itu juga," tutur dr Sigit lagi.

Baca juga: Virus Flu Burung yang Tewaskan 2 Warga Tangerang Diduga dari Burung Hantu

Dalam kesempatan terpisah, dr Emil Agustiono, M.Kes., Anggota Panel Ahli Komnas Zoonosis mengatakan Tangerang dan sekitarnya diketahui sebagai daerah endemik flu burung.
 
"Tangerang dan sekitarnya itu memang endemik, termasuk daerah Legok dan sekitarnya dulu kan pernah kejadian di situ juga. Makanya penyuluhan dan penyediaan obat tetap harus dilakukan, jangan lengah," tutur dr Emil


Ia mencatat, masyarakat seringkali tak sadar bila virusnya bisa saja masih berkeliaran sehingga bersikap lengah dan tidak hati-hati. Ketika sudah terjangkit pun, gejalanya mirip-mirip dengan flu biasa, bahkan tak jarang dikira tifoid atau demam berdarah lantas kurang diperhatikan.

Namun karena terhitung jarang terjadi, dr Emil mengatakan 1 kasus flu burung yang menyerang manusia saja sudah dikategorikan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Maka bila sampai jatuh korban dua orang, ia berharap investigasi dilakukan lebih cermat dan menyeluruh. (lll/up)

Berita Terkait