Tony Yang, profesor kebijakan kesehatan dari George Mason University melakukan penelitian kepada lebih dari 6.200 taman kanak-kanak dan preschool di California. Ditemukan bahwa anak-anak dari keluarga orang kulit putih, cukup berada dan bersekolah di sekolah swasta tidak mendapat vaksinasi.
Baca juga: Masih Sedikit yang Divaksin, Anak-anak di Australia Kena Wabah Cacar Air
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prof Yang juga mengatakan anak yang tidak divaksinasi adalah mereka yang berasal dari daerah Orange Country dan Santa Barbara, daerah elit di kawasan California.
"Jika Anda tinggal di komunitas orang kulit putih yang kaya, di mana mereka tidak memvaksinasi anaknya, tentunya akan berbahaya bagi tumbuh kembang anak Anda," ungkap Prof Yang, dikutip dari CNN, Rabu (31/12/2015).
Laporan dari Public Health Reports pada tahun 2011 mengatakan takut terserang autisme dan efek samping vaksin membuat orang tua tidak mau memvaksinasi anaknya. Padahal ini tidak benar. Studi yang mengatakannya sudah dicabut dan ada lebih dari 20.000 penulisan karya ilmiah yang mengatakan vaksinasi aman bagi anak-anak.
Alasan lain tidak memvaksinasi anak adalah meningkatnya minat dan informasi terkait 'kesehatan alamiah' atau nature health. Orang tua lebih senang mengatur diet atau pola makan anak untuk mencegah penyakit daripada memvaksinasi mereka.
Baca juga: Cara-cara Mengurangi Stres Pada Anak yang Akan Disuntik Vaksin
Padahal tidak semua penyakit bisa dicegah hanya dengan pola makan dan gaya hidup sehat. Penyakit-penyakit lain seperti polio, difteri, encok hingga leprosis yang sempat hilang kini kembali muncul dan mengancam jiwa anak-anak Anda.
"Vaksin merasakan efek negatif dari kesuksesannya sendiri. Mereka yang tidak pernah melihat wabah penyakit seperti polio dan difteri akhirnya merasa kebal dan tidak memvaksinasi anaknya," pungkas Prof Yang.
(mrs/up)











































