April: Lebih Mudah Diedarkan, Ganja Dicampur ke dalam Brownies

Kaleidoskop 2015

April: Lebih Mudah Diedarkan, Ganja Dicampur ke dalam Brownies

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 31 Des 2015 17:18 WIB
April: Lebih Mudah Diedarkan, Ganja Dicampur ke dalam Brownies
Foto: Detikcom
Jakarta - Brownies merupakan salah satu jenis kue yang digemari di tengah masyarakat. Namun 'nama baik' brownies tercemar oleh kasus penangkapan sindikat pembuatan brownies berbahan ganja pada awal April lalu.

Diakui Badan Narkotika Nasional (BNN), upaya pengungkapan kasus ini berawal dari laporan masyarakat terkait seorang siswa SMP yang tertidur dua hari dua malam setelah memakan kue brownies, yang belakangan diketahui mengandung ganja.

Setelah berhasil diamankan, salah satu tersangka mengaku awalnya hanya mengonsumsi ganja untuk membantu dirinya menahan rasa sakit karena mengidap HIV dan hepatitis C. Agar tidak ketahuan, ia mengolahnya menjadi makanan seperti brownies dan cokelat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini menarik perhatian teman-temannya, yang kemudian mendorong tersangka ini untuk memproduksi brownies ganja buatannya secara massal. Sebelum ditangkap, si tersangka yang hanya diketahui berinisial IR mengaku hanya menjual via internet. Dengan mematok harga Rp 200.000, pembeli sudah bisa mendapatkan 1 kotak berisi 14 buah kue hasil dari olahan ganja.

Sebelum akhirnya tertangkap, IR mengaku baru berbisnis brownies ganja selama enam bulan dan pelanggannya berasal dari berbagai kota di Indonesia.

Baca juga: Ganja Dibalut Brownies Beredar di Internet, Korbannya Bisa Tertidur 2 Hari

Kepala Bagian Humas BNN, Kombes Slamet Pribadi menjelaskan baik ganja lintingan maupun brownies ganja mempunyai efek yang sama. Yang membedakan hanyalah cara penyajiannya saja.

Sependapat, dr Andri, SpKJ dari RS Omni Alam Sutra mengatakan, selama zat aktifnya sama maka efeknya ke otak juga akan sama. Selebihnya, efek ganja akan dipengaruhi oleh seberapa banyak kandungan zat aktif dan sensitivitas penggunanya.

"Ada pasien saya, sekali 'ngisep' ganja bisa gangguan jiwa. Ada juga mungkin orang lain yang sekali menggunakan, tapi tidak ada efek apapun. Tapi tetap, secara umum efeknya sama," papar dr Andri.


Lagipula apapun bentuknya, konsumsi ganja secara terus-menerus pasti akan memicu ketergantungan, tak terkecuali dengan dalih untuk meredakan nyeri. Ditambahkan Kombes Slamet, seseorang yang mengalami kecanduan ganja biasanya tidak suka makan tetapi suka tidur. "Sakit perut tidak jelas, malas, lemot, bolot, suka tipu-tipu," paparnya.

Baca juga: Berbagai Insiden Akibat Mengonsumsi Makanan Mengandung Ganja

Di sisi lain, dr Andri mengingatkan penggunaan ganja sebagai pereda nyeri. Ia mengaku bahwa ganja mempunyai efek anti-nyeri, tetapi ia sama sekali tidak menyarankannya.

"Karena ganja itu selain buat pereda nyeri kan memang banyak efek sampingnya yang negatif," jelasnya.

Efek samping negatif yang dimaksud dr Andri antara lain halusinasi. Memang efeknya membuat pemakainya merasa tenang, tetapi kondisi tersebut bisa membuat pikiran dan perasaannya tidak sesuai. Bahkan pada beberapa orang, bisa memicu gangguan jiwa. (lll/up)

Berita Terkait