Agustus: Begini Untungnya Saat Harga Daging Sapi Jadi Mahal

Kaleidoskop 2015

Agustus: Begini Untungnya Saat Harga Daging Sapi Jadi Mahal

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Minggu, 03 Jan 2016 08:55 WIB
Agustus: Begini Untungnya Saat Harga Daging Sapi Jadi Mahal
Foto: Thinkstock
Jakarta - Pertengahan Agustus atau menjelang Idul Adha, sektor perekonomian Indonesia dihebohkan dengan lonjakan harga daging sapi di pasaran. Dari yang biasanya hanya berkisar di bawah Rp 100.000/kg, kini bisa mencapai Rp 120.000-130.000/kg. Masyarakat pun mau tak mau dibuat resah.

Padahal daging sapi bukanlah makanan utama orang Indonesia. Survei Makanan Individu Indonesia 2014 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa konsumi daging secara umum pada masyarakat Indonesia adalah 42,8 gram/orang/hari

Ini pun didominasi oleh konsumsi daging unggas sebanyak 29 gram/orang/hari. Sedangkan daging sapi atau kerbau tercatat hanya 5,4 gram/orang/hari, disusul olahan daging sapi atau kerbau sebesar 4,8 gram/orang/hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Hal senada juga dikemukakan ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Hardinsyah, MS. "Untuk kondisi naiknya harga daging saya rasa tidak perlu diresahkan lah. Karena secara nutrisi, masih bisa digantikan," katanya beberapa waktu lalu.

Sumber pangan yang bernilai sama dengan daging di antaranya kerang, lele, tempe, daging ayam dan telur. Lagipula konsumsi daging harian idealnya tidak lebih dari 70 gram sehari, terutama untuk daging merah.

Baca juga: Profesor Gizi Komentari Mahalnya Daging Sapi

Menurut Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB tersebut, pembatasan konsumsi daging merah semata-mata dilakukan untuk mencegah brbagai risiko penyakit seperti kanker usus besar dan kanker payudara yang sering dikaitkan dengan konsumsi daging merah secara berlebihan atau tidak diimbangi dengan asupan serat yang cukup.

Belum lagi risiko penyakit jantung. "Konsumsi daging terutama yang berkualitas rendah bisa meningkatkan kadar kolesterol dan punya kandungan lemak yang lebih tinggi sehingga bisa meningkatkan risiko jantung koroner dan hipertensi," lanjut Prof Hardinsyah.


Di sisi lain, konsultan saluran cerna dar RS Cipto Mangunkusumo, dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP mengatakan melonjaknya harga daging sapi bisa jadi kesempatan untuk beralih ke konsumsi daging putih, seperti ikan atau ayam. "Kalau perlu kesempatan Jokowi mempromosikan karena daging merah untuk konsumsi tidak sehat," katanya.

Apalagi kandungan protein pada ikan dan ayam tidak kalah dari daging merah, namun lemaknya lebih sedikit sehingga memberikan dampak negatif yang tidak sebesar daging merah. Lantas bagaimana mengonsumsi daging merah yang aman? "Kalau direbus relatif lebih aman tapi kalau dicampur keju, santan, atau margarin enggak bagus juga. Disemur atau direbus lebih baik. Disop tanpa santan juga bisa," saran dr Ari.

Kalaupun ingin dibakar atau dipanggang, usahakan agar menghindari bagian daging yang hangus karena bagian itulah yang diklaim sebagai karsinogen atau pemicu risiko kanker.

Baca juga: Ini Batas Konsumsi Ideal Daging Merah Biar Nutrisi Tetap Seimbang

Gayung bersambut, di penghujung Oktober, sebuah badan di bawah Badan Kesehatan Dunia, yaitu International Agency for Research on Cancer (IARC) menyatakan daging merah olahan seperti sosis dan bacon sebagai pemicu kanker, terutama kanker kolorektal atau usus besar.


IARC memperkirakan tiap 50 gram daging olahan yang dikonsumsi setiap hari dapat meningkatkan risiko kanker usus hingga 18 persen. Bahkan dengan pernyataan itu, daging olahan disejajarkan dengan karsinogen (penyebab kanker) lainnya pada manusia yakni rokok, radiasi sinar matahari, asbestos serta minuman beralkohol.

Dalam pernyataannya, IARC juga menetapkan daging merah ke dalam pemicu kanker pankreas dan kanker prostat meski belum sebesar kaitannya dengan risiko kanker usus. (lll/up)

Berita Terkait