"Studi ini menunjukkan bahwa Anda dapat menurunkan kematian akibat kanker yang sangat mematikan. Hal ini tidak dapat diremehkan," kata Dr Karen Lu, director of the High Risk Ovarian Cancer Screening program dari MD Anderson Cancer Center di Houston, Amerika Serikat, dikutip dari NBC News, Rabu (6/1/2016).
Hasil ini menurutnya, menjadi awal yang menjanjikan bagi masyarakat untuk mencegah kanker ovarium. Namun, ada beberapa analisis data yang diperlukan dalam beberapa bulan mendatang untuk menentukan dampak sebenarnya dari pengujian deteksi dini kanker ovarium.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian ini dipimpin oleh Ian Jacobx dari Universitas College London, Inggris. Melibakan sekitar 200.000 wanita berusia antara 50-74 tahun, pengamatan ini dilakukan selama 14 tahun. Dalam penelitian ini, setengah wanita tidak mendapatkan skrining, sedangkan 50.000 wanita mendapat USG tahunan, dan sisanya mendapat tes darah tahunan untuk pengujian CA-124, senyawa yang meningkat apabila seseorang memiliki kanker ovarium.
Pada kelompok ketiga, jika tingkat CA-125 naik setalah dilakukan pengamatan, maka akan mendapatkan USG untuk mencari bukti tumor. Selama waktu penelitian, sekitar 1.200 wanita mengalami kanker ovarium.
Baca juga: Tak Cuma pada Kulit, Wanita Juga Alami Penuaan di Sistem Reproduksinya
Tingkat kematian untuk kanker ovarium adalah sekitar 60 persen. Namun, perempuan yang mendapatkan tes darah dengan USG akan memiliki tingkat harapan hidup lebih tinggi. Selain itu, kemungkinan mereka meninggal karena kanker teramati lebih kecil.
Biasanya, seseorang akan melakukan skrining untuk mendeteksi kanker ovarium. Namun, cara ini cukup rumit dan sering kali CA-125 tidak meningkat padagl mereka yang memiliki kanker ovarium.
"Bahkan dengan melakukan tes di laboratorum yang berbada saja mungkin hasilnya akan berbeda juga," tutupnya. (up/up)











































