Kisah bermula dari seorang mantan perawat bernama Elet Neilson. Wanita berumur 49 tahun ini pernah bekerja di dua rumah sakit tersebut, namun ia belakangan dipecat karena mencuri obat-obatan.
Elet hanya dihukum denda dan tidak dipenjara karena perbuatannya itu. Persoalan muncul ketika Elet diketahui mengidap hepatitis C. Kebetulan strain hepatitis yang menyerangnya tergolong langka, yaitu genome 2b.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Hepatitis C Tak Cuma Penyakit Para Pecandu, Semua Orang Punya Risiko
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, baik McKay Dee dan Davis Hospital menawarkan skrining gratis kepada ke-7.200 pasien tersebut. Rencananya skrining ini akan berlangsung hingga akhir Januari.
Upaya ini membuahkan hasil dengan ditemukannya beberapa pasien yang dinyatakan positif terkena hepatitis C. Fakta ini diperkuat dengan ditemukannya beberapa pasien dengan strain yang sama dengan Elet, tetapi ada juga yang ketahuan terkena strain lain lewat skrining tersebut.
Sayangnya hanya 35 persen dari mereka yang datang ke rumah sakit dan menjalani skrining. "Kami berharap setidaknya separuh dari mereka datang, padahal kami hanya punya waktu beberapa minggu lagi," tutur Angela Dunn dari Utah Centers for Disease Control and Prevention.
Pihak CDC Utah sendiri sudah menyatakan kasus tersebut sebagai wabah. "Ketika kami menemukan dua kasus infeksi yang berkaitan dengan hepatitis C atau lebih, kami langsung menganggap ini sebagai wabah," lanjut Angela seperti dikutip dari berbagai sumber, Selasa (12/1/2016).
Baca juga: Hati-hati Pinjam Gunting Kuku, Bisa Berisiko Tularkan Hepatitis C
dr Irsan Hasan, SpPD-KGEH dari RS Cipto Mangunkusumo menjelaskan kebanyakan pasien hepatitis tidak menyadari ia menyandang penyakit ini. Bahkan pada tahap awal terjadi sirosis atau pengerasan hati sekalipun, pasien masih merasakannya. Pada tingkat sirosis paling parah, barulah diketahui dari adanya demam, lesu, warna kuning di sekitar mata hingga urine berwarna cokelat.
"Gejala seperti mual, lelah, dan perut begah (karena hepatitis, red) sering dianggap gejala masuk angin, maag, atau kelelahan. Bisa juga gejalanya berupa sindrom seperti mau flu," tambah dr Femmy Nurul Akbar, SpPD-KGEH dalam kesempatan lain.
Diakui dr Femmy, perkembangan virus hepatitis C kronik bisa memakan waktu sepuluh sampai 15 tahun. Itulah faktor utama penderita kerap mengabaikan gejalanya dan tidak melakukan pemeriksaan seperti medical check up. Namun, saat hepatitis C sudah kronik, bahkan menjadi sirosis hati, baru daya tahan tubuh melemah.
"Maka dari itu, penting sekali melakukan skrining," tegas dr Femmy. (lll/vit)










































