"Waktu kecil saya dipanggil gajah karena badannya besar," tutur Tulus, dalam sebuah sesi temu media di Senayan, Jakarta Selatan, (Rabu (12/1/2016).
Dipanggil gajah, tentu saja membuat Tulus merasa tidak nyaman. Ia mengaku tidak suka dengan panggilan tersebut, meski kenyataanya memang Tulus kecil punya badan lebih bongsor dibanding teman sebayanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya mulai kompromi dengan pengalaman tersebut, saya bikin twist dari cerita itu. Bahwa ternyata dengan memanggil saya gajah, mereka mendoakan yang baik-baik untuk saya," jelas Tulus, yang dalam lagu tersebut menggambarkan gajah sebagai sosok yang tangguh dan suka menolong.
Baca juga: Dibully Saat Remaja Tingkatkan Risiko Masalah Kesehatan Saat Dewasa
Liza Marelly Djaprie, psikolog dari sanatorium Dharmawangsa menyebut nama panggilan dengan konotasi jelek sebagai salah satu bentuk bullying populer dengan istilah name calling. Sama halnya dengan bullying verbal, name calling bisa memicu dampak buruk bagi kejiwaan korbannya.
"Bekasnya nggak kelihatan secara fisik, tetapi dampaknya paling mematikan. Bullying cyber dan verbal menyebabkan tingkat bunuh diri paling tinggi dibanding bentuk bullying lainnya," jelas Liza.
Selain Tulus, vokalis grup band Nidji Giring Ganesha juga mengaku pernah mengalami bullying semasa kecil. Punya nama yang tidak umum, dipadu dengan posturnya yang kurus dan berambut kribo, Giring semasa kecil dipanggil 'giring bola' oleh teman-temannya.
Nama Giring sendiri diambil dari nama Ki Ageng Giring yang menyebarkan Islam di Jawa. "Memang benar, selalu ada doa dalam sebuah nama," kata Giring.
Baca juga: Pelaku Maupun Korban Bullying Sama-sama Berisiko Alami Masalah Mental (up/vit)











































