Tetapi sebenarnya dampak-dampak tersebut bersifat jangka panjang. Sedangkan dampak di depan mata justru lebih sering terabaikan. Dampak yang dimaksud adalah gangguan penglihatan akibat gadget, yang kemudian lebih dikenal dengan 'digital eye strain'.
Baru-baru ini sebuah lembaga bernama The Vision Council mengungkapkan 65 persen warga Amerika dewasa ini mengalami 'digital eye strain'. Hal ini terungkap setelah mereka menggelar survei terhadap lebih dari 10.000 orang dewasa di sana.
Kondisi ini ditandai dengan gejala seperti mata kering, iritasi, penglihatan kabur, mata lelah, sakit kepala, dan nyeri, terutama di leher dan punggung. 'Digital eye strain' sendiri biasanya baru bisa muncul setelah yang bersangkutan menatap layar selama dua jam atau lebih.
Baca juga: Pusing Saat Menggunakan Gadget? Mungkin Terkena Cyber Sickness
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut pengamat, ada beberapa faktor yang mengambil peran dalam memicu 'digital eye strain', semisal durasi dan frekuensi penggunaan gadget, kedekatan letak gadget dengan mata, dan paparan cahaya biru atau sumber cahaya dari layar dengan resolusi tinggi.
Ironisnya, ketika memeriksakan diri, 90 persen pasien penyakit digital ini tidak mengaku jika mereka kerap berlama-lama di depan gadget.
"Saat memanfaatkan teknologi, kondisi semacam 'digital eye strain' seperti sulit untuk dihindari, tetapi bukan berarti tak bisa dicegah," kata Mike Daley, CEO dari The Vision Council, seperti dikutip dari Daily Mail, Senin (18/1/2016).
Mereka berharap para dokter aktif untuk memberikan edukasi kepada pasien-pasiennya tentang penggunaan gadget atau media elektronik secara bijak, setidaknya untuk mengurangi gejala yang muncul akibat 'digital eye strain' yang menyiksa.
Baca juga: Aplikasi Email di Handphone, Berguna Sekaligus Bisa Jadi Sumber Stres (lll/vit)











































