Kampanye Penggunaan Kontrasepsi oleh 'Manusia Kondom' di Ghana

Kampanye Penggunaan Kontrasepsi oleh 'Manusia Kondom' di Ghana

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Rabu, 27 Jan 2016 14:03 WIB
Kampanye Penggunaan Kontrasepsi oleh Manusia Kondom di Ghana
Foto: An uyung P
Nusa Dua, Bali - Sosialisasi penggunaan kontrasepsi di Ghana melahirkan julukan 'manusia kondom' di kalangan sopir angkutan umum. Sebuah penelitian mengungkap, keterlibatan para sopir cukup membantu program KB (Keluarga Berencana).

"Mereka berinteraksi dengan banyak orang, dengan penumpang dan dengan sesama sopir saat istirahat di pangkalan," jelas Patience Owusu, peneliti dari Health Keepers saat ditemui di ICFP (International Conference on Family Planning) 2016 di Nusa Dua, Bali, Rabu (27/1/2016).

Inisiatif untuk melibatkan sopir angkutan dalam sosialisasi penggunaan kontrasepsi di Ghana banyak memberikan perubahan. Dahulu, saat berkumpul mereka lebih banyak membicarakan sepakbola dan politik. Sekarang, topik obrolannya seputar kondom dan keluarga berencana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Owusu menjelaskan, ada sekitar 92 sopir di 4 distrik yang ditelitinya. Keterlibatan para sopir yang kemudian dijuluki 'manusia kondom' atau 'condom man' membuat isu kontrasepsi lebih mudah diterima. Mayoritas warga setempat adalah penganut Kristen yang sangat taat.

Baca juga: Dua Anak Cukup, Laki atau Perempuan Kadang-kadang Tidak Sama

Berbagai terobosan memang dilakukan di seluruh dunia untuk mengkampanyekan kontrasepsi. Selain untuk membatasi laju pertumbuhan penduduk, alasan kesehatan ibu dan anak juga menjadi pertimbangan penting digencarkannya kampanye tersebut.

Jika di Ghana kampanye ini melibatkan sopir bus dan sopir taksi, di Bali ibu-ibu pedagang dan kuli angkut Pasar Badung juga banyak terlibat dalam kegiatan sejenis. Tergabung dalam Yayasan Rama Sesana (YRS), ibu-ibu tersebut aktif mengedukasi sesama pedagang maupun pengunjung pasar.

"Sebagian besar perempuan berpenghasilan rendah di Bali tidak punya akses terhadap informasi kesehatan, serta layanan kesehatan dengan biaya yang terjangkau," kata Direktur YRS, dr Luh Putu Upadisar alias dr Sari.

(up/vit)

Berita Terkait