dr Nora Volkow selaku pemimpin studi dari National Institute on Drug Abuse, Amerika Serikat, mengatakan penting bagi profesi memahami tahapan-tahapan adiksi tersebut agar bisa melayani pasien lebih baik.
Bermula dari tahap intoksikasi, saat itu orang yang memakai narkoba akan merasakan euforia akibat efek zat. Tapi secara bersamaan juga pada beberapa orang akan terjadi perubahan di otak yang bisa memicu stres bila zat tersebut tak ada lagi di tubuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Tahun 2016, Pemerintah Targetkan Rehabilitasi 100 Ribu Korban Narkoba
Tahap intoksikasi dan tahap ketergantungan kemudian akhirnya membentuk pola lingkaran berulang.
"Anda merasa senang, bahagia, tinggi, lalu habis efeknya Anda akan merasa buruk. Otak Anda akan belajar mencari narkoba lebih banyak lagi," kata dr Volkow seperti dikutip dari Livescience pada Kamis (28/1/2016).
Selain perubahan pada susunan saraf otak yang berujung pada stres dan kecanduan. Perubahan terjadi juga pada bagian prefrontal cortex otak, tempat di mana proses kesadaran diri dan pengambilan keputusan dibuat.
Pada tahap ketiga, antisipasi, perubahan pada bagian prefrontal cortex membuat seseorang tak mampu menahan nafsunya. Hal ini yang mungkin menjelaskan mengapa orang kecanduan yang sangat ingin berhenti tetap tidak bisa meski sebenarnya ia mampu menahan tahap kecanduan.
Baca juga: Pentingnya Peran Keluarga untuk Sukseskan Program Rehabilitasi Korban NAPZA (fds/vit)











































