Kamis, 28 Jan 2016 16:36 WIB

Kisah Emma, Melahirkan Anak Kembar dengan Down Syndrome

Nurvita Indarini - detikHealth
Emma dan si kembar (Foto: Mirror) Emma dan si kembar (Foto: Mirror)
Blackpool, Inggris - Emma Lowe (36) senang luar biasa saat tahu dirinya tengah hamil janin kembar. Tapi dia tak menyangka ternyata si kembar mengalami Down Syndrome.

Menurut Emma, ketika dirinya tahu sedang mengandung janin yang kembar identik, dokter mengatakan peluangnya memiliki anak dengan Down Syndrome adalah 1:1 juta. Untuk memastikan janin yang dikandungnya memiliki Down Syndrome atau tidak, Emma disarankan menjalani tes darah.

Tes darah akan mencari fragmen DNA dari plasenta, yang berada dalam aliran darah ibu. Prosedur ini kurang infasif bila dibanding tes sebelumnya, tes amniosentesis. Amniosentesis dilakukan dengan mengambil sampel plasenta atau cairan yang menggenangi bayi menggunakan jarum. Ada risiko keguguran akibat prosedur ini.

Menurut informasi yang diperoleh Emma, pada perempuan yang memiliki peluang besar melahirkan bayi dengan Down Syndrome akan ditawari tes untuk mengecek. Jika memang anaknya diketahui akan mengalami Down Syndrome, ibu akan ditawari NHS untuk mengakhiri kehamilannya.

Baca juga: Tak Bisa Baca Tulis, Gadis dengan Down Syndrome Ini Bisa Bikin Usaha

Emma sendiri pernah punya pengalaman dengan tes amniosentesis pada kehamilan sebelumnya. Kala itu Emma sedang hamil anak keempat. Janin dalam kandungannya yang masih berusia 12 pekan ditengarai Down Syndrome dan komplikasi medis setelah menjalani pemeriksaan Nuchal Translucency (NT Scan).

Untuk memastikan kondisi si janin, Emma menjalani tes amniosentesis dan ternyata hasilnya si janin positif memiliki Down Syndrome. Meski demikian, Emma berniat tidak akan menterminasi kehamilannya. Sayangnya, anak keempatnya itu lahir mati.

Karena itu Emma sangat bahagia ketika tahu dirinya hamil lagi pada 9 bulan kemudian, terlebih janinnya kembar. Pada kehamilan kali ini, meski Emma disarankan menjalani tes deteksi dini Down Syndrome pada janin yang dikandungnya, namun dia enggan melakukannya. "Tidak masalah bayi saya akan Down Syndrome atau tidak," ucapnya seperti dikutip dari Mirror, Kamis (28/1/2016).

Emma melahirkan si kembar melalui prosedur caesar. Kedua bayi itu sangat lucu dan sekilas tidak terlihat tanda Down Syndrome. Namun tiga hari kemudian, dokter mengatakan kedua bayi itu ternyata memiliki Down Syndrome. Hal itu telah dipastikan melalui sejumlah tes.

"Dia bilang sepanjang 20 tahun bekerja di rumah sakit, dia belum pernah melihat kembar identik yang memiliki Down Syndrome sebelumnya," sambung Emma.

Saat itu Emma tidak bisa berkata apa-apa. Tapi dia dan suaminya memastikan bahwa tidak ada yang berubah kendati anaknya memiliki Down Syndrome. Mereka pulang ke rumahnya di peternakan dan kehadiran si kembar semakin meramaikan keluarga itu. Si kembar diberi nama Arthur dan Alfie.

Seiring berjalannya waktu, Emma bisa melihat perbedaan perkembangan si kembar dengan anaknya yang lain. Anak Emma yang lebih tua mulai bisa berjalan di usia satu tahun. Sedangkan di usia yang sama, si kembar baru bisa berguling dan mengangkat badan saat tengkurap.

Ketika berusia dua tahun, si kembar masih merangkak dan masih sering diletakkan di kereta bayi. Meski demikian, Emma sering menaruh kedua anaknya itu ke lantai dengan alas yang lembut maupun ke taman agar bebas bergerak.

Saat anak kembarnya berusia dua tahun itulah, Emma kembali hamil. Beberapa waktu kemudian dia melahirkan bayi perempuan yang cantik dan sehat. Emma begitu bahagia dikelilingi oleh anak-anaknya. Meski Down Syndrome yang dialami anak kembarnya tidak mengubah apapun, namun Emma menyimpan kekhawatiran akan masa depan mereka. Apalagi kini Emma harus membesarkan keenam anaknya sendiri lantaran akhir tahun lalu bercerai dari suaminya.

"Saya ingin Arthur dan Alfie punya kehidupan yang normal. Tapi saya khawatir dengan masa depannya. Saya tahu mereka tidak akan punya kebebasan sama seperti saudara mereka yang lain," ucap Emma.

Baca juga: Inspiratif! Kisah Hebat Orang-orang dengan Down Syndrome


(vit/ajg)