Senin, 29 Feb 2016 14:29 WIB

Mengenal Antibakteri dalam Madu

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: Nurvita Indarini Foto: Nurvita Indarini
Auckland, New Zealand - Madu diyakini sebagai salah satu makanan kaya manfaat. Beberapa penelitian bahkan menyebut madu bisa bermanfaat untuk pengobatan. Bahkan disebut-sebut madu memiliki kandungan antibakteri.

Aktivitas antibakteri dalam madu telah dikenal sejak abad ke-19. Itu makanya orang-orang zaman dulu telah banyak menggunakan madu untuk pengobatan maupun pencegahan infeksi pada luka. Penelitian pun dilakukan untuk mengetahui kandungan apakah yang menyebabkan ada aktivitas antibakteri dalam madu.

Salah satu yang melakukan penelitian untuk mencari tahu kandungan hebat dalam madu adalah Professor Thomas Henle dari University of Dresden, Jerman. Mulanya dia meneliti tentang reaksi yang terjadi selama pengolahan makanan, nah salah satu jenis makanan yang diteliti adalah madu.

Baca juga: Benarkah Madu Aman dan Efektif untuk Melembapkan Bibir?



Beberapa madu di Jerman diambil sampel dan diteliti. Ternyata ada kandungan methylglyoxal (MGO)dalam madu-madu tersebut. Namun yang istimewa, kandungan MGO ternyata paling tinggi ditemukan pada sampel madu manuka. Manuka atau Leptospermum scoparium merupakan bunga yang terkenal di New Zealand.

MGO sebenarnya ditemukan di semua madu, namun dalam konsentrasi kecil. Hanya saja pada madu manuka, ditemukan MGO dalam level yang lebih tinggi, dari 100 sampai 1.000 mg/kg. Penelitian menunjukkan semakin tinggi tingkat MGO, maka semakin kuat tingkat antibakterinya karena mampu membunuh sejumlah besar bakteri dan virus.

MGO dibentuk secara alami dalam nektar dari bunga Manuka, yang kemudian dikumpulkan oleh lebah madu. MGO lantas ditransfer ke dalam madu dengan kondisi yang masih stabil. MGO ini tahan terhadap panas, cahaya, cairan tubuh dan aktivitas enzimatik.

Selain pada madu, MGO juga ditemukan pada kopi dan cokelat. Level MGO tertinggi pada kopi dan cokelat adalah 100 mg/kg.

Baca juga: Populasi Lebah Menurun, Manusia Bisa Terancam Malnutrisi

Berangkat dari hal itu, Prof Henle pun melakukan penelitian yang sistematis untuk lebih mengetahui aktivitas antibakteri non-peroksida pada madu manuka. "Studi kami menunjukkan methylglyoxal secara eksklusif bertanggung jawab atas aktivitas antibakteri non-peroksida pada madu manuka," terang Prof Henle dalam peringatan 10 tahun Manuka Honey Science di Northcote Point, Auckland, New Zealand, akhir pekan lalu.

Dalam penelitian pendahuluannya, Prof Henle mengatakan madu mungkin memiliki peran dalam menghambat H. Pylori, bakteri yang berpotensi patogen di saluran pencernaan. Namun masih perlu penelitian lanjutan untuk mengonfirmasinya.

(vit/ajg)
News Feed