Dalam tulisan yang dipublikasikan di Nature Communications, ilmuwan melaporkan stres kronis terbukti menginduksi sinyal dari sistem saraf simpatik yang mendorong perkembangan kanker.
"Jadi ketika stres, tidak hanya ada jalan baru bagi tumor untuk keluar, namun kecepatannya juga meningkat sehingga sel-sel tumor dapat mengalir keluar dari tumor itu sendiri jauh lebih cepat," kata salah satu peneliti, Dr Erica Sloan dari Monash Institute of Pharmaceutical Sciences, dikutip dari ABC Australia, Kamis (3/3/2016).
Sistem limfatik merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh, yakni suatu sistem sirkulasi sekunder yang berfungsi mengalirkan limfa atau getah bening di dalam tubuh. Meski demikian jika terkena paparan stres kronis dapat turut mempercepat penyebaran kanker.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Mudah Depresi dan Putus Asa, Pasien Kanker Butuh Dukungan
Mengingat obat tersebut telah lama digunakan, Sloan dan rekan-rekannya melihat data dari hampir 1.000 pasien kanker payudara di Italia yang menggunakan obat tersebut. "Ketika dilacak selama sekitar tujuh tahun, ternyata orang-orang yang telah mengonsumsi beta-blocker menunjukkan perpindahan sel-sel tumor ke kelenjar getah bening yang kemudian menyebar ke organ lain seperti paru-paru jauh lebih sediki," terangnya.
Sloan menambahkan hubungan antara stres kronis dan penyebaran kanker (bukan munculnya kanker baru) telah ditunjukkan dalam beberapa penelitian, terutama pada individu dengan kanker di stadium awal. Apalagi seseorang yang baru saja didiagnosis kanker umumnya berada dalam situasi yang paling stres.
"Stres tidak hanya memengaruhi kesejahteraan pasien, tetapi juga masuk ke dalam tubuh dan memengaruhi bagaimana tumor berkembang," imbuhnya.
Menanggapi penelitian ini, dr Elgene Lim, onkolog dari Garvan Institute mengatakan penelitian tersebut menegaskan stres terkait dengan kondisi yang lebih buruk pada pasien kanker. Yang menarik adalah kemungkinan intervensi dengan pemberian obat tertentu. Meski demikian, dr Lim menekankan pemberian obat tekanan darah masih perlu diuji klinis pada manusia untuk melihat apakah benar mengurangi penyebaran kanker seperti yang terjadi pada tikus laboratorium.
Baca juga: Ditambah Depresi, Kanker Turunkan Peluang Hidup Pasien Secara Drastis (vit/vit)











































