Rabu, 16 Mar 2016 07:26 WIB

Mengapa Penyelam Perlu Melakukan Terapi Hiperbarik?

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: Nurvita Foto: Nurvita
Jakarta - Terapi hiperbarik disarankan dilakukan oleh para penyelam. Ini merupakan terapi medis pemberian oksigen murni di ruangan bertekanan tinggi atau chamber hiperbarik. Oksigen murni ini disalurkan melalui masker oksigen. Sementara itu, tekanan dalam chamber lebih dari 1,4 atmosfer absolute (ATA).

Lalu mengapa penyelam perlu melakukan terapi ini? "Walaupun penyelaman sesuai prosedur, ada alat bantu juga, tapi manusia bukanlah komputer. Manusia yang satu dan lainnya juga berbeda, ada hal yang bisa membuat kondisi tubuh terganggu," jelas dr Erick Supondha, MKK yang memberikan layanan hiperbarik pada pasien di RS Bethsaida Tangerang saat ditemui di tempat praktiknya, seperti ditulis pada Rabu (16/6/2016).

Seperti diketahui, pada saat seseorang menyelam, zat yang dihirup mayoritas adalah oksigen dan nitrogen. Oksigen jelas penting bagi metabolisme tubuh. Namun nitrogen tidak digunakan oleh tubuh. Ketika nitrogen terhirup, dalam jumlah banyak bisa menurunkan kinerja sistem saraf pusat. Bahkan jika jumlah nitrogen yang larut di plasma darah sangat besar bisa memicu terjadinya nitrogen narcosis.

Baca juga: Agar Tak Membahayakan, Dilarang Bawa Barang-barang Ini ke Chamber Hiperbarik

Penyakit dekompresi juga rentan dialami penyelam. Sebab semakin dalam menyelam maka kelarutan nitrogen dalam cairan tubuh makin tinggi. Jika penyelam naik ke permukaan terlalu cepat, maka nitrogen dalam tubuh bisa membentuk gelembung yang menyumbat di dalam tubuh. Pembuluh darah, otak, dan lain-lain bisa tersumbat oleh gelembung nitrogen ini.

Faktor risiko penyakit dekompresi ini antara lain lemak yang tinggi, usia 40 tahun ke atas, kelelahan, alkohol, pernah punya riwayat kondisi yang sama, atau karena ada kerusakan jaringan. Untuk itu selain saran asupan sehat dan pemanasan cukup, nitrogen wash out dengan terapi oksigen hiperbarik pada 2-7 hari sebelum penyelaman sering disarankan.

dr Erick yang juga Sekretaris Ikatan Dokter Hiperbarik Indonesia menegaskan terapi oksigen hiperbarik ini aman dan berbasis kedokteran. Meski demikian bukan berarti tidak memiliki efek samping. Untuk meminimalkan efek samping itu, maka harus dikendalikan melalui pengawasan.

"Jadi gunakan alat yang baik, sesuai prosedur, sesuai standar, aman, benar. Seperti kalau bawa mobillah, agar aman dipakai safety belt-nya. Mobil aman kan, tapi ada risikonya juga yang mengancam," sambung dr Erick.

Baca juga: Jalani Terapi Hiperbarik, Adakah Efek Sampingnya?


(vit/vit)
News Feed