Saat Dokter Indonesia Demonstrasikan Pemasangan Stent Jantung Secara Live

Saat Dokter Indonesia Demonstrasikan Pemasangan Stent Jantung Secara Live

Firdaus Anwar - detikHealth
Kamis, 17 Mar 2016 15:33 WIB
Saat Dokter Indonesia Demonstrasikan Pemasangan Stent Jantung Secara Live
Foto: Firdaus Anwar
Jakarta - Dalam pertemuan internasional China Interventional Therapeutics (CIT) 2016 di Beijing, ahli jantung dari Indonesia, Profesor Dr dr Teguh Santoso diberikan kesempatan untuk melakukan demonstrasi operasi jantung yang langsung disiarkan via satelit.

Konferensi yang diadakan pada 17 Maret 2016 ini menunjukkan kasus penanganan penyakit jantung oleh Prof Santoso dengan teknologi stent terbaru bernama Bioresorbable Vascular Scaffold (BVS). Tujuan dari pemasangan BVS ini hampir sama seperti pemasangan stent biasanya yaitu untuk membuka penyempitan pembuluh darah, hanya saja stent BVS dapat meresap ke pembuluh darah dengan sendirinya dan menjadi bagian dari dinding pembuluh.

Sekitar 5.000 ahli jantung dari 20-30 negara di Asia ingin menyaksikan operasi Prof Santoso karena pemasangan stent BVS ini memang perlu teknik khusus. Karena bahan BVS lebih tebal dari stent umumnya, maka untuk kasus penyempitan yang kompleks Prof Santoso perlu menunjukkan beberapa alat dan teknik yang telah ia buktikan hasilnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Oke ini situasinya jadi pasien ini pembuluh darahnya mengalami kalsifikasi. Apa yang kami lakukan adalah kami mengenalkan balon dengan ukuran 3 milimeter untuk membuka jalan kabel," papar Prof Santoso melakukan operasi di RS Medistra, Jakarta, sambil berbincang dengan ahli jantung lainnya lewat microphone, Kamis (17/3/2016).

Baca juga: Utak-atik Jantung Pakai Kawat, Sembuhnya Jauh Lebih Cepat 



Operasi untuk melakukan penerapan BVS masih jarang dilakukan di dunia. Oleh karena itu Prof Santoso dengan pengalamannya diminta berbagi dan memberikan contoh langsung penanganan kasus.

Diketahui pasien yang ditangani oleh Prof Santoso untuk demonstrasi ini berjenis kelamin laki-laki berusia paruh baya. Operasi memakan waktu sekitar 2 jam mulai dari pembedahan awal, pembukaan pembuluh darah, pemasangan stent, dan finishing.

"Kasus yang ini memang sulit dan mereka tadi kan suka nanya kalau ketemu seperti ini harus dikerjakan enggak. Ya jadi kasus sulit yang mereka sendiri bahkan enggak mau mengerjakannya," kata Prof Santoso.

"Ini suatu kehormatan bagi negara kita sebetulnya," tutupnya. (fds/up)

Berita Terkait