Rabu, 23 Mar 2016 14:06 WIB

Kelangkaan Obat Epilepsi Berdampak Serius, Sudah 4 Kasus dalam Setahun

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Ilustrasi obat (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Bagi pengidap epilepsi, pemberian obat secara teratur sangat penting untuk mencegah kekambuhan. Sayangnya, beberapa jenis obat murah belakangan ini susah didapatkan.

"Terutama obat generik jenis fenobarbital dan carbamazepine. Sudah 2 tahun terakhir sering dilaporkan kosong," kata dr Irawati Hawari, SpS, ketua Yayasan Epilepsi Indonesia (YEI), dalam temu media di Hotel le Meredien Jakarta, Rabu (24/3/2016).

Obat-obat tersebut, menurut dr Irawati cukup murah. Harganya hanya berkisar antara Rp 100 hingga Rp 500 tiap tablet. Untuk pemakaian rutin, per bulan tidak lebih dari Rp 10.000. Bahkan dengan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional), obat-obat ini sebenarnya bisa didapatkan gratis.

Namun, seringnya obat-obat tersebut hilang dari peredaran membuat pasien epilepsi harus membeli obat lain yang lebih mahal. Apalagi, obat-obat epilepsi umumnya tidak begitu saja bisa diganti seperti halnya jenis obat untuk penyakit lain.

"Kalau sakit kepala misalnya, tidak ada parasetamol masih bisa pakai ibuprofen atau lainnya. Epilepsi tidak demikian. Kalau pasien sudah merasa cocok dengan satu obat, tidak bisa diganti-ganti begitu saja," jelas dr Irawati.

Baca juga: Epilepsi Sejak Kecil dan Teratur Minum Obat, Amankah?

Dampak dari kelangkaan obat epilepsi yang sering terjadi belakangan ini adalah terganggunya proses pengobatan. Tingkat kekambuhan akan meningkat, bahkan dalam beberapa kasus bisa menyebabkan bangkitan (serangan) terus-menerus atau 'status epileptikus'.

"Di RSCM (RS Cipto Mangunkusumo) dalam setahun sudah ada 4 kasus. Cost untuk status epileptikus akhirnya menjadi mahal gara-gara obat murahnya tidak tersedia," kata dr Irawati.

Baca juga: Billy, Remaja Pertama di Inggris yang Sembuh dari Epilepsi Berkat Robot

(up/vit)