Akan tetapi dari sekian banyak jumlah kasus NSCLC, para pakar melihat adanya pasien kanker paru dengan mutasi gen yang disebut EGFR. Entah kebetulan atau tidak, 40 persen pasien kanker paru dengan mutasi EGFR ini cukup banyak ditemukan di Asia, dan 10 persen Kaukasian.
Tantangannya, hingga saat ini pilihan pengobatan untuk kanker paru dengan mutasi ini juga belum banyak, sehingga menyulitkan pasien untuk memperoleh benefit terbaik dari pengobatannya. Dan kesempatan ini diambil oleh perusahaan farmasi asal Jerman, Boehringer Ingelheim setelah melalui proses riset selama bertahun-tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keduanya sama-sama obat lini pertama, tetapi pada akhirnya afatinib menunjukkan bahwa keduanya bukanlah obat yang sama, utamanya dalam hal toksisitas dan efficacy," tandas Prof Keunchil Park dari Samsung Medical Center, Sungkyunkwan University School of Medicine.
Menurutnya, riset yang dilakukannya bersama Boehringer Ingelheim adalah yang pertama membandingkan berbagai aspek dari kedua obat secara langsung. Dan terbukti ada perbedaan yang cukup signifikan.
Baca juga: Tak Cuma Bahaya untuk Berat Badan, Asupan Seperti Ini Juga Ancam Paru-paru
Semisal terkait dengan aspek penurunan risiko perkembangan kanker paru yang didapat pengguna afatinib, yaitu 27 persen. Mereka yang menggunakan afatinib juga cenderung tidak berganti atau bisa terus mengonsumsi obat yang diberikan dalam kurun lebih lama, bila dibandingkan ketika diberi gefitinib.
Respons obyektif pada tumor juga lebih lama, 10,1 bulan pada pengguna afatinib dan 8,4 bulan pada pemakai gefitinib. Kemajuan dengan afatinib ini juga terlihat pada semua pasien, tak peduli apa jenis kelamin, usia, ras dan tipe mutasinya.
"Keistimewaan afatinib adalah (obat, red) generasi kedua ini dapat bereaksi pada seluruh famili dari gen mutasi, akibat dari adanya mekanisme resistensi. Dengan kemampuan ini, ia dapat memblokade seluruh sinyal penumbuh tumor sehingga pengobatannya lebih efektif," terangnya.
Namun Park mengakui, efek samping afatinib lebih besar dibandingkan penggunaan gefitinib, meskipun efeknya sama-sama berupa diare, ruam atau gangguan fungsi hati. Tetapi, lanjut Park, hal ini juga tergantung pada pengalaman si dokter dalam mengatasi atau mengantisipasi efek samping yang muncul pada pasiennya.
"Biasanya saya akan minta pasien untuk ketemu saya di 1-2 minggu pertama. Jadi bisa saya monitor dengan melihat toleransi pasien," paparnya kepada wartawan dalam Boehringer Ingelheim Oncology Regional Media Conference, baru-baru ini.
Baca juga: Tren Kanker Paru Asia Tertinggi di Dunia
Park menambahkan, salah seorang pasiennya telah divonis umurnya takkan panjang. Kondisinya sudah sangat lemas dan hanya terbaring di ICU. Namun begitu diresepkan afatinib, si pasien sudah bisa berjalan dalam kurun 2 minggu.
"Bagi saya itu sudah keajaiban, walaupun 10 bulan kemudian saya tetap kehilangan dia. Itulah mengapa kami ingin mengembangkan (obat, red) generasi ke-2, ke-3 dst. Ini tanggung jawab moral kita," katanya.
Bukan berarti Park menyarankan agar gefetinib ditinggalkan. Toh Park meyakinkan bahwa sampai saat ini belum ada satupun obat yang bisa menyembuhkan pasien kanker paru secara total. Namun dengan adanya afatinib, pasien bisa memilih obatnya sendiri, yang tidak hanya sesuai dengan cost and benefit-nya tetapi juga efektivitas serta keamanan produknya.
Kendati demikian, Prof Gerd Stahle, Vice President Medicine Therapeutic Area Oncology, Boehringer Ingelheim, sejauh ini afatinib belum bisa dilempar ke pasaran karena masih harus menjalani tinjauan kesehatan di berbagai negara.
"Pertimbangannya bisa harga, seperti di China obat ini tidak di-cover oleh asuransi. Kemudian perbedaan kebijakan di masing-masing negara terkait obat baru," imbuhnya dalam kesempatan terpisah.
Afatinib merupakan terapi tunggal untuk pasien kanker paru dengan mutasi EGFR, dan tidak dikombinasikan dengan kemoterapi. Obat ini berbentuk tablet dengan dosis 40 mg dan diresepkan satu hari sekali.
"Tidak ada kontraindikasi. Kalau pasien tidak bisa mentolerir, dosisnya bisa dikurangi menjadi 30mg, 20 mg," tutup Park. (lll/up)











































