Pejabat senior Kementerian Kesehatan Liberia mengatakan hal ini merupakan guncangan kecil untuk Liberia. Sebabnya, negara ini sudah dinyatakan bebas Ebola oleh WHO beberapa bulan lalu.
"Memang ada seorang wanita muda berusia awal tiga puluh tahun yang meninggal akiabt Ebola di Redemption Hospital kemarin. Lalu seorang teaga kesehatan juga meninggal namun kedua kasus ini tidak berkaitan," tutur pejabat yang tak disebutkan namanya tersebut, dikutip dari Reuters, Sabtu (2/4/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kematian ini menjadi ironis karena baru beberapa hari lalu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa kondisi darurat dunia akibat Ebola dinyatakan selesai. Pengumuman ini mengakhiri status darurat Ebola yang sudah dimulai sejak tahun 2014.
Direktur Jenderal WHO Margaret Chan juga menerima rekomendasi dari komite independen yang beranggotakan para ahli untuk mengangkat larangan bepergian dan berdagang untuk negara Guinea, Liberia, dan Sierra Leone. Ketiganya adalah negara yang terkena dampak paling buruk pada puncak wabah Ebola.
"Wabah Ebola di Afrika Barat sudah bukan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (PHEIC -red)," kata Chan.
"Tapi tingkat kewaspadaan dan kapasitas respon yang tinggi perlu dijaga untuk memastikan negara-negara mampu mencegah infeksi Ebola lewat pendeteksian dini terhadap kejadian yang mungkin muncul di masa depan," lanjutnya.
Virus Ebola sejak pertama kali membuat kehebohan global di tahun 2014 diperkirakan telah membunuh sekitar 11.300 jiwa. WHO mendapat kritikan hebat karena dianggap lamban bertindak untuk virus yang sudah terlihat tanda kemunculannya tahun 2013.
Kondisi saat ini disebutkan bahwa reaksi berantai penularan Ebola yang terjadi luas sudah selesai. Hanya saja memang pada beberapa tempat masih ada kasus baru karena terjadi reintroduksi virus.
Baca juga: Anggap Ebola Sudah Terkontrol, WHO Cabut Status Kondisi Darurat Global (mrs/up)











































