Kesimpulan ini terungkap setelah tim peneliti dari Hospital del Mar, Spanyol melakukan pengamatan terhadap 451.432 pekerja. Peneliti menghitung berat dan tinggi badan, lingkar pinggang hingga catatan tekanan darah dari waktu ke waktu.
Dari situ mereka menemukan bahwa lebih dari separuh pekerja mengalami obesitas namun tidak terjadi perubahan drastis pada metabolismenya. Oleh peneliti, kondisi ini masih mereka golongkan sebagai 'metabolically healthy'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Temuan ini juga sesuai dengan hasil riset sebelumnya yang mengatakan, obesitas atau kelebihan berat badan baru dikatakan berbahaya bila terjadi perubahan metabolisme yang drastis. Akan tetapi jika perubahan ini tidak terjadi, maka yang bersangkutan masih dapat dikatakan sehat.
Baca juga: Risiko Kematian Akibat Kegemukan Masih Membayangi Meski Bobot Turun
Lantas apa yang membuat mereka masih dikategorikan sebagai sehat? Ini karena peneliti menemukan bahwa 'si gemuk yang sehat' ini masih lebih sering berolahraga; jarang merokok maupun minum-minum.
Tak heran bila peneliti menambahkan, mereka yang gemuk tapi sehat ini tidak dihantui risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, hipertensi dan sakit jantung sebesar mereka yang kelebihan berat badan tetapi memiliki kebiasaan buruk seperti merokok, mengonsumsi alkohol dan malas bergerak, atau mereka yang tidak gemuk sama sekali tetapi juga mempunyai kebiasaan-kebiasaan tak sehat tersebut.
"Sebab orang yang bobotnya normal atau malah kurang tetapi tidak sehat lebih cenderung mengadaptasi gaya hidup sedenter dibanding yang gemuk tapi sehat," kata peneliti, Cualtis dan Eli Lilly seperti dilaporkan Daily Mail.
Peneliti juga menemukan 'gemuk tapi sehat' lebih banyak terjadi pada wanita berusia muda. Sedangkan mereka yang gemuk dan tak sehat, atau kurang bobot dan tidak sehat lebih banyak ditemukan pada pekerja pria dengan usia yang lebih tua.
Baca juga: Jutaan Orang di AS Dilabeli Gemuk Meski Kenyataannya Sehat
(lll/up)











































