Jumat, 08 Apr 2016 07:40 WIB

Risiko Gangguan Jantung Tidak Bisa Dilepaskan dari 'Kesalahan' Keluarga

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: thinkstock
New York - Seseorang tidak bisa menggantungkan kesehatannya pada orang lain, kecuali jika usianya sudah senja. Namun disadari atau tidak, kesehatan seseorang sebenarnya ditentukan dari latar belakang keluarganya.

Ada banyak faktor dari keluarga yang menentukan kesehatan jantung seseorang, dan kesemuanya berkelindan satu sama lain. Mulai dari pola makan yang diajarkan, kebiasaan berolahraga, hingga cara keluarga menghadapi stres atau tekanan.

Hal ini disimpulkan peneliti dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai, New York setelah meninjau puluhan studi tentang kesehatan jantung.

Untuk menjelaskannya, peneliti mengambil contoh kebiasaan olahraga yang dilakukan orang tua. Meskipun orang tua hanya memiliki sedikitnya satu aktivitas fisik yang rutin dilakukan setiap hari, itu sudah berdampak signifikan pada tingkat kesehatan fisik anak-anaknya. Ini karena kebiasaan yang dimiliki orang tua akan berdampak kuat, bahkan 'tertanam' pada anak-anaknya dan menjadi kebiasaan yang sama.

Contoh kedua bisa dilihat dari persepsi orang tua tentang berat badan anak. Bila orang tua terkesan menyepelekan status bobot anaknya, maka si anak akan cenderung menjadi kelebihan berat badan.

Baca juga: Bobot Vs Bentuk Badan, Mana yang Lebih Menentukan Kesehatan Jantung?

Menanggapi studi ini, Dr Suzanne Steinbaum, direktur Women's Heart Health, Lenox Hill Hospital, New York City menambahkan, respons keluarga ketika dihadapkan pada stres juga memberikan implikasi jangka panjang pada jantung seseorang.

"Saat stres atau dihadapkan pada masalah, sebagian keluarga akan lari ke makanan yang bergizi rendah atau melampiaskannya dengan melakukan kegiatan sedenter. Ini juga akan ditiru dari generasi ke generasi," jelasnya.

Begitu juga ketika anak melihat orang tuanya menghadapi stres dengan merokok atau mengonsumsi alkohol. Anak bisa saja merasa kegiatan-kegiatan tersebut sebagai hal yang sah-sah saja dilakukan kelak, atau bahkan mungkin sejak dini.

Steinbaum juga menyinggung soal ketegasan atau pola asuh (parenting) orang tua terhadap anak. Ia mengaku tidak heran bila kemudian anak yang orang tuanya lebih permisif terhadap banyak hal cenderung mempunyai kebiasaan makan yang buruk.

"Sebaliknya, orang tua yang agak otoriter (red, soal makanan) tetapi juga pendengar yang baik dan bisa diajak berkomunikasi mampu menghasilkan anak yang lebih sehat, bahkan tak hanya ke fisik tetapi sampai ke aspek psikologisnya juga," paparnya seperti dilaporkan CBS News.

Baca juga: Tidur Siang Lebih dari 40 Menit, Risiko Sindrom Metabolik Meningkat

(lll/vit)