Menurut Studi, Tertawa yang Seperti Ini Bisa Ungkap Hubungan Pertemanan

Menurut Studi, Tertawa yang Seperti Ini Bisa Ungkap Hubungan Pertemanan

Firdaus Anwar - detikHealth
Rabu, 13 Apr 2016 11:22 WIB
Menurut Studi, Tertawa yang Seperti Ini Bisa Ungkap Hubungan Pertemanan
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Rata-rata seseorang dalam sehari bisa tertawa sampai 15 kali dan tak semua tertawa itu dibuat setara. Seperti yang ditemukan oleh studi bahwa cara tertawa seseorang yang khusus hanya dibagi kepada mereka yang dianggap teman dekat, menjadi sinyal status hubungan bagi pendengar lainnya.

Pemimpin studi Dr Gregory Bryant dari University of California mengatakan mengetahui hal tak hanya membuka wawasan bagaimana tawa berperan dalam hubungan sosial, tapi juga bagaimana tawa memengaruhi evolusi perilaku manusia.

Untuk studinya Bryant melakukan eksperimen memutar 48 rekaman percakapan dua orang kepada 966 partisipan dari 24 kelompok masyarakat berbeda. Partisipan diminta menerka dari suara tawa yang ada di dalam rekaman apakah dua orang tersebut berteman dan apakah mereka saling menyukai satu sama lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Mengapa Seseorang Bisa Tertawa Saat Melihat Orang Lain Jatuh?

Respons yang dihasilkan oleh partisipan dikumpulkan untuk melihat apakah hanya dari mendengarkan tawa seseorang bisa mengukur suatu hubungan sosial.

Hasilnya diperoleh partisipan sekitar 53-67 persen akurat dalam menentukan hubungan sosial dua individu dalam rekaman. Dugaan paling akurat diberikan oleh partisipan ketika menilai percakapan antara dua orang wanita.

Menurut Bryant fakta bahwa seseorang dapat membuat suatu penilaian cepat tentang apakah orang lain berteman atau tidak ini menunjukkan bahwa tertawa adalah tanda yang baik untuk afiliasi sosial. Mungkin juga manusia berevolusi memiliki kapasitas untuk tertawa sebagai penanda universal status hubungannya dengan orang lain kepada pihak luar.

Tawa yang menunjukkan pertemanan dideskripsikan lebih tulus, bernada tinggi, dan spontan.

"Tawa bisa jadi sesuatu yang penting dalam kehidupan sosial untuk tahu siapa teman siapa lawan, jadi mengingat sejarah evolusi panjang tawa pada primata bukan manusia, maka bisa dipastikan bahwa hal ini berperan dalam perilaku sosial manusia purba," pungkas Bryant yang studinya telah dipublikasikan di jurnal PNAS, seperti dikutip dari Live Science.

Baca juga: Hirup Gas Tertawa Bisa Bantu 'Menghapus' Luka Lama (fds/vit)

Berita Terkait