HIV Tak Jadi Stigma Lagi di Batam

HIV Tak Jadi Stigma Lagi di Batam

Firdaus Anwar - detikHealth
Jumat, 22 Apr 2016 07:00 WIB
HIV Tak Jadi Stigma Lagi di Batam
Ilustrasi tes HIV (Foto: AN Uyung Pramudiarja)
Jakarta - Meski kasus human immunodeficiency virus (HIV) di Batam, Kepulauan Riau, secara data terus alami peningkatan, dinas kesehatan setempat mengatakan hal tersebut merupakan fenomena gunung es. Kenyataannya kondisi penyakit HIV di masyarakat mengalami perbaikan.

Seperti diutarakan oleh Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan Batam, Sri Rupiati bahwa pada tahun 2015 tercatat kasus baru HIV mencapai angka tertingginya yaitu 641. Namun demikian ketika melihat rata-rata usia harapan hidup pengidap, pengetahuan, dan penerimaan masyarakat terhadap orang dengan AIDS (ODA) yang ada di Batam saat ini kondisinya jauh lebih baik saat pertama kali penyakit ditemukan di tahun 1992.

"Ditemukan lebih banyak karena kami lebih banyak jejaringnya. Dulu mereka semua (masyarakat -red) tak tersentuh hanya wanita pekerja seks dan waria saja yang diperiksa. Sekarang semua komunitas sudah kita sentuh sampai remaja sekalipun," kata Sri saat ditemui pada acara diskusi oleh Kementerian Kesehatan di Hotel Harmoni, Batam, Kamis (21/4/2016).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tahun 1992-1996 itu ODA tak lebih dari 5 tahun meninggal, sekarang ini sudah bergeser menjadi 10 sampai 15 tahun. Orang di Batam kalau mau menikah malah menelepon ke kita nanya mau periksa HIV di rumah sakit. Sudah ada kesadaran karena kita menggunakan kemitraan," lanjut Sri.

Baca jugaSeorang Pria Diklaim Sebagai Pasien HIV Pertama yang Mengidap Alzheimer

Penyebab perbaikan kondisi penyakit HIV dikatakan oleh Sri tak terlepas peran serta masyarakat dan perusahaan. Di Batam dilaporkan ada tujuh lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan 70 perusahaan yang bergerak aktif melakukan sosialisasi HIV bekerja sama dengan dinas kesehatan.

Pada tahun awal kemunculan HIV di Batam, memang diakui oleh Sri terdapat stigma yang kuat di masyarakat. Sri bercerita bahkan dahulu saat awal masa bertugasnya di tahun 90-an pernah ada satu pengidap perempuan yang diusir dari rumah oleh keluarganya sendiri karena takut tertular.

Cerita-cerita penolakan tersebut menurut Sri tentu tak ditemui lagi di Batam saat ini. Bila memang ada pihaknya bersama kelompok peduli HIV-AIDS lainnya siap melakukan tindakan sosialisasi ke tiap individu.

"ODA di Batam sudah tidak malu-malu lagi karena di sini kita pekerjakan jadi konselor, manajer kasus. Jadi cerita mereka sendiri bisa jadi bukti bahwa pengidap HIV tak harus menderita dan bisa produktif," tutup Sri.

Baca jugaDokter di AS Sukses Lakukan Cangkok Organ pada Pasien HIV Positif

(fds/vit)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads