Pantang Menyerah, Mereka Tetap Berprestasi Meski Tak Punya Tangan dan Kaki

Pantang Menyerah, Mereka Tetap Berprestasi Meski Tak Punya Tangan dan Kaki

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Jumat, 22 Apr 2016 12:03 WIB
Pantang Menyerah, Mereka Tetap Berprestasi Meski Tak Punya Tangan dan Kaki
Foto: CNN
Jakarta - Tak memiliki tangan dan kaki lengkap, bukan berarti menjadi halangan untuk tetap berprestasi dan bermanfaat bagi orang lain. Ya, orang-orang 'terpilih' ini berhasil membuktikan hal tersebut.

Ada yang menjadi juara trampolin nasional, menjadi seorang model, bahkan menjadi dokter yang bisa mengobati banyak orang. Berikut kisahnya, seperti dirangkum detikHealth, Jumat (22/4/2016):

1. Izzy Weall menjadi juara trampolin

Foto: Daily Mail
Izzy Weall (12) kehilangan kedua lengan dan kakinya sejak usia 6 tahun, tepatnya setelah ia didiagnosis dengan meningitis. Namun ia tak patah semangat. Menginjak usia remaja, ia justru berhasil menjadi juara trampolin nasional.

Sang ibu, Catherine (42), menceritakan bahwa putrinya didiagnosis meningitis dan harus kehilangan kedua lengan dan kakinya saat masih berusia 6 tahun. "Pasca operasi Izzy menghabiskan waktu dua bulan di rumah sakit untuk proses pemulihan dan 8 bulan ia harus beraktivitas menggunakan kursi roda. Beberapa waktu kemudian ia dipasangkan lengan dan kaki palsu, dan langsung belajar berjalan sendiri," tutur Catherine.

Anak sulung dari tiga bersaudara ini lalu mengikuti kejuaraan Schools National Trampolining Competition. Dalam kategori Disability Category Two Novice, Izzy tampil memukau dan berhasil menjadi juara.

2. Li Juhong menjadi dokter

Foto: Daily Mail
Kedua kakinya diamputasi saat masih kecil karena kecelakaan. Meski tanpa kaki, perempuan ini tak menyerah. Bahkan kini dia menjadi dokter yang siap menyambangi warga desa untuk memberi layanan kesehatan. Ya, itu merupakan cita-citanya sejak kecil.

Demi mengejar mimpi tersebut, Li tetap mengambil pendidikan kedokteran. Pendidikan itu diselesaikannya pada tahun 2000. Usai menyelesaikan pendidikan kedokterannya, Li kembali ke desanya, Wadian di Distrik Hechuan, China. Dia bekerja di klinik desa dan menikah dengan pria bernama Xing.

Karena istrinya perlu berkeliling ke rumah-rumah warga, Xing pun memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Dia membantu istrinya berkeliling untuk memeriksa kesehatan para lansia yang sulit pergi ke mana-mana.

3. Mark Pollock menjadi atlet

Foto: Daily Mail
Pollock diketahui buta, dan mengalami kecelakaan ketika ia dewasa yang menyebabkan dirinya lumpuh. Tetapi kemunduran fisik yang dialami tidak menghentikannya untuk mencapai cita-citanya yakni menjadi seorang atlet.

Pada tahun 2002, Pollock memenangkan medali perak dan perunggu untuk perlombaan mendayung di Commonwealth Games. Pada tahun berikutnya, ia mengikuti enam lomba marathon dalam tujuh hari di Gurun Gobi, China. Ia juga berpartisipasi dalam Ironman Triathlon di Swiss pada tahun 2006. Lalu pada tahun 2008 ia mencatat sejarah sebagai orang tunarungu pertama yang mengikuti balapan ke Kutub Selatan.

4. Kanya Sesser menjadi model

Foto: Daily Mail
Dari pekerjaannya sebagai model, setiap hari perempuan berusia 23 tahun ini mengklaim bisa mendapatkan uang lebih dari Rp 14 juta. Kepada dunia dia ingin menunjukkan bahwa berbeda itu seksi. Lagipula menurut Kanya, dia tidak perlu kaki untuk merasa seksi.

Dikutip dari Daily Mail dan ditulis pada Selasa (6/10/2015), Kanya memulai karir modeling di usia 15 tahun. Mulanya dua berpose untuk sejumlah merek pakaian olahraga. Kanya menyebut, dirinya menjadi model Volcom, Nike dan Rip Curl Girl, meskipun pernyataannya belum terverifikasi.

Selain modeling, Kanya juga menggemari olehraga ekstrem. Selama ini dia merupakan pemain ski aktif, pemain skateboard dan peselancar. Seringkali dia tidak menggunakan kursi roda dan lebih memilih untuk berkeliling menggunakan skateboard atau berjalan dengan tangannya. Kanya pun berharap bisa ikut serta dalam kompetisi mono-ski musim dingin di Paralimpiade Korea Selatan 2018 mendatang.

5. Zuly Sanguino jadi pelukis

Foto: Daily Mail
Zuly memang terlahir dengan kondisi tak memiliki tangan dan kaki. Sempat depresi dan hampir bunuh diri akibat di-bully oleh teman-teman sekolahnya, ia kini justru kerap menjadi pembicara di acara-acara umum dan menginspirasi ribuan orang.

Ia juga sama sekali tak bergantung pada orang lain untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari seperti mandi, menyikat gigi dan merias wajah. Sebisa mungkin ia berusaha untuk tetap mandiri.

Di usia 18 tahun Zuly kemudian masuk ke sekolah seni dan belajar melukis. Hebatnya, karya-karya Zuly tak kalah indah dibandingkan dengan teman-temannya yang memiliki kondisi fisik sempurna.

Ia juga bergabung dengan aktivitas gereja lokal, di mana sang pendeta kemudian mengajaknya bergabung untuk melakukan kunjungan masyarakat dan memberi inspirasi melalui pidato. Mendapatkan banyak dukungan saat kali pertama berbicara di hadapan 400 mahasiswa dan orang tua tentang bullying di sekolah.

Halaman 2 dari 6
Izzy Weall (12) kehilangan kedua lengan dan kakinya sejak usia 6 tahun, tepatnya setelah ia didiagnosis dengan meningitis. Namun ia tak patah semangat. Menginjak usia remaja, ia justru berhasil menjadi juara trampolin nasional.

Sang ibu, Catherine (42), menceritakan bahwa putrinya didiagnosis meningitis dan harus kehilangan kedua lengan dan kakinya saat masih berusia 6 tahun. "Pasca operasi Izzy menghabiskan waktu dua bulan di rumah sakit untuk proses pemulihan dan 8 bulan ia harus beraktivitas menggunakan kursi roda. Beberapa waktu kemudian ia dipasangkan lengan dan kaki palsu, dan langsung belajar berjalan sendiri," tutur Catherine.

Anak sulung dari tiga bersaudara ini lalu mengikuti kejuaraan Schools National Trampolining Competition. Dalam kategori Disability Category Two Novice, Izzy tampil memukau dan berhasil menjadi juara.

Kedua kakinya diamputasi saat masih kecil karena kecelakaan. Meski tanpa kaki, perempuan ini tak menyerah. Bahkan kini dia menjadi dokter yang siap menyambangi warga desa untuk memberi layanan kesehatan. Ya, itu merupakan cita-citanya sejak kecil.

Demi mengejar mimpi tersebut, Li tetap mengambil pendidikan kedokteran. Pendidikan itu diselesaikannya pada tahun 2000. Usai menyelesaikan pendidikan kedokterannya, Li kembali ke desanya, Wadian di Distrik Hechuan, China. Dia bekerja di klinik desa dan menikah dengan pria bernama Xing.

Karena istrinya perlu berkeliling ke rumah-rumah warga, Xing pun memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Dia membantu istrinya berkeliling untuk memeriksa kesehatan para lansia yang sulit pergi ke mana-mana.

Pollock diketahui buta, dan mengalami kecelakaan ketika ia dewasa yang menyebabkan dirinya lumpuh. Tetapi kemunduran fisik yang dialami tidak menghentikannya untuk mencapai cita-citanya yakni menjadi seorang atlet.

Pada tahun 2002, Pollock memenangkan medali perak dan perunggu untuk perlombaan mendayung di Commonwealth Games. Pada tahun berikutnya, ia mengikuti enam lomba marathon dalam tujuh hari di Gurun Gobi, China. Ia juga berpartisipasi dalam Ironman Triathlon di Swiss pada tahun 2006. Lalu pada tahun 2008 ia mencatat sejarah sebagai orang tunarungu pertama yang mengikuti balapan ke Kutub Selatan.

Dari pekerjaannya sebagai model, setiap hari perempuan berusia 23 tahun ini mengklaim bisa mendapatkan uang lebih dari Rp 14 juta. Kepada dunia dia ingin menunjukkan bahwa berbeda itu seksi. Lagipula menurut Kanya, dia tidak perlu kaki untuk merasa seksi.

Dikutip dari Daily Mail dan ditulis pada Selasa (6/10/2015), Kanya memulai karir modeling di usia 15 tahun. Mulanya dua berpose untuk sejumlah merek pakaian olahraga. Kanya menyebut, dirinya menjadi model Volcom, Nike dan Rip Curl Girl, meskipun pernyataannya belum terverifikasi.

Selain modeling, Kanya juga menggemari olehraga ekstrem. Selama ini dia merupakan pemain ski aktif, pemain skateboard dan peselancar. Seringkali dia tidak menggunakan kursi roda dan lebih memilih untuk berkeliling menggunakan skateboard atau berjalan dengan tangannya. Kanya pun berharap bisa ikut serta dalam kompetisi mono-ski musim dingin di Paralimpiade Korea Selatan 2018 mendatang.

Zuly memang terlahir dengan kondisi tak memiliki tangan dan kaki. Sempat depresi dan hampir bunuh diri akibat di-bully oleh teman-teman sekolahnya, ia kini justru kerap menjadi pembicara di acara-acara umum dan menginspirasi ribuan orang.

Ia juga sama sekali tak bergantung pada orang lain untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari seperti mandi, menyikat gigi dan merias wajah. Sebisa mungkin ia berusaha untuk tetap mandiri.

Di usia 18 tahun Zuly kemudian masuk ke sekolah seni dan belajar melukis. Hebatnya, karya-karya Zuly tak kalah indah dibandingkan dengan teman-temannya yang memiliki kondisi fisik sempurna.

Ia juga bergabung dengan aktivitas gereja lokal, di mana sang pendeta kemudian mengajaknya bergabung untuk melakukan kunjungan masyarakat dan memberi inspirasi melalui pidato. Mendapatkan banyak dukungan saat kali pertama berbicara di hadapan 400 mahasiswa dan orang tua tentang bullying di sekolah.

(ajg/vit)

Berita Terkait